<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-37231711</id><updated>2012-02-15T23:56:59.206-08:00</updated><category term='YN'/><category term='Sudah Sore'/><category term='yuknulis'/><category term='Packaging'/><category term='tomat'/><title type='text'>Afriza Propagands</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://afrizaprops.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/37231711/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://afrizaprops.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Indra Afriza</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13607744542905509680</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_U78_aSG2NqI/SukQCBIEZeI/AAAAAAAAAFw/EStaWPknMSg/S220/animme.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>21</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-37231711.post-1625520921548579353</id><published>2011-06-17T04:05:00.001-07:00</published><updated>2011-06-17T04:05:23.541-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>Jadi begini... Sesederhana apapun, kamu tentu cinta dan bangga dengan rumah yang kamu buat. Di sana kamu tumbuh dan kembangkan semua impianmu. Di sana pula semua yang kamu cintai berada. Nah, jika suatu hari kamu melihat seorang yang tampak menyenangkan di matamu, lalu kamu terkesan dan mengajak orang itu singgah. Apa yang kamu rasakan bila orang tersebut menyambit ajakanmu dengan jawaban seperti ini: &lt;br /&gt;"Oh, saya memang menyenangkan dan cukup berkilau. Kilau saya bisa kamu lihat di rumah Anu, rumah Ono, dan beberapa rumah lainnya. Karena itu saya rasa tak perlu lagi memajang kilau saya ini di rumahmu. (Lagipula rumahmu itu gak begitu penting deh untuk dikunjungi). Anyway, terimakasih lho atas perhatiannya. Kamu bener kok, aku memang menyenangkan, sudah terakui pula..."&lt;br /&gt;Terasa senep bukan? Itulah sebabnya orang seperti itu disebut sebagai Snob, karena menimbulkan rasa senep-oblogodohh.&lt;br /&gt;Lain bila orang itu menjawab dengan: "Oh, terima kasih atas perhatiannya. Nanti deh, kalo sempat, saya berkunjung ke rumahmu ya?" Bahkan bila dia tidak kunjung sempat pun rasanya kita akan cenderung memaklumi.&lt;br /&gt;Kesimpulannya: hargai rumah orang lain seperti kamu menghargai rumahmu sendiri. &lt;br /&gt;Orang snob tanpa sadar akan terputus dari tali silaturahmi.&lt;br /&gt;Selesai.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/37231711-1625520921548579353?l=afrizaprops.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://afrizaprops.blogspot.com/feeds/1625520921548579353/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=37231711&amp;postID=1625520921548579353' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/37231711/posts/default/1625520921548579353'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/37231711/posts/default/1625520921548579353'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://afrizaprops.blogspot.com/2011/06/jadi-begini.html' title=''/><author><name>Indra Afriza</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13607744542905509680</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_U78_aSG2NqI/SukQCBIEZeI/AAAAAAAAAFw/EStaWPknMSg/S220/animme.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-37231711.post-1867859822981748783</id><published>2011-02-28T04:45:00.001-08:00</published><updated>2011-02-28T04:45:53.159-08:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>MEMBAKAR KERTAS&lt;br /&gt;(terjemahan dari puisiku di Wordpress, 'The Burndown of Sass')&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada celah pada sudut pandang kita&lt;br /&gt;Tanpa karpet selamat datang&lt;br /&gt;Pedang bukan pena, pun sebaliknya&lt;br /&gt;Jadi mengapa halaman dibakar jadi abu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada ketakutan di gua-gua sunyi&lt;br /&gt;Dan siapakah manusia gua sesungguhnya?&lt;br /&gt;Pintu-pintu tertutup dan terkunci&lt;br /&gt;Jendela-jendela remuk dan pecah&lt;br /&gt;Dilempari batu dari pikiran zaman batu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada harga untuk kepastian dalam hidup&lt;br /&gt;Tiada pemikiran, mimpi, bahkan berkelok pun terlarang  &lt;br /&gt;Dan kita belajar selama ini bahwasanya&lt;br /&gt;Tiada kedamaian yang bertahan selamanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;--Udo Indra, akhir 2007--&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/37231711-1867859822981748783?l=afrizaprops.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://afrizaprops.blogspot.com/feeds/1867859822981748783/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=37231711&amp;postID=1867859822981748783' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/37231711/posts/default/1867859822981748783'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/37231711/posts/default/1867859822981748783'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://afrizaprops.blogspot.com/2011/02/membakar-kertas-terjemahan-dari-puisiku.html' title=''/><author><name>Indra Afriza</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13607744542905509680</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_U78_aSG2NqI/SukQCBIEZeI/AAAAAAAAAFw/EStaWPknMSg/S220/animme.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-37231711.post-551232164911332818</id><published>2011-02-26T04:17:00.001-08:00</published><updated>2011-02-26T04:17:22.218-08:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>MISSING THE RED. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasil edit dan kompilasi dari sebuah twitbung karya Indra Afriza di Twitter ( Udo_Indra )&lt;br /&gt;****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam ini aku melihat imajimu, dalam rona kemerahan. Wajah ini menyala. Ada bara yang meletup kecil, namun begitu terasa. Setelah kuyup dalam pergulatan panjang, akhirnya aku bisa memaafkan diriku sendiri. Biar kau tetap merah, apatah salah? Tiada, semua fana.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama ini, setelah itu, kita kukuh bicara pada tembok. Saling menyapa, tapi ke arah udara. Sirna ditiup badai maya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak berani kubilang bilangan rasa. Takut mencakar wajahku, merajam lidahku. Tak terbilang bilangan nada. Tiada usaha utk mempermanai.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Musnah? Tak pernah. Seperti kata kita yang sukasuka. Selalu ada. Bahkan saat beranda kita sepi. Angin terus saja mencandai pandangan kita..   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nada kita seperti petikan gitarmu di pantai sepi. Seorang lelaki menggapaimu, moksa. Dua malekah kecil bergayut padamu, manja. Lagumu, sunyi.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu kau berlari pada kubu pastoral di ranah priangan. Aku membacanya pada sebuah teras, hanya membaca. Kaki ini dimakan belatung raja.   &lt;br /&gt;Lalu kita sama berdoa. Sama sembunyi. Tutupi yang tak terbantahkan. Kita coba menerima sebuah titik henti. Mengunyah detak detik penuh seksa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku abis mbaca Djenar, dia lucu!"&lt;br /&gt;"Oh ya? Aku baru mbaca Wendo. Dia lucu juga!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Klik! Nostalgia, badai nostalgia... Gila!      &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih terkenang saat berlindung dari kuyup hujan di warung kopi. Hujanmu lebih parah, kau sembunyikan kabar dalam renyah tawa. Semua berlalu.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"I miss you, Red!" Teriakku di tubir malam. Di antara hingar kesunyianmu, sampaikah nada sepiku? Batubatu bergeluntur... Kita mengunduhnya.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiadaan mengadakan peniadaan. Detak bergulir... Bertahan di tiga titik penahan laju rasa. Terhela dalam keterpaksaan kondita. Singasasana.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah itu, selama ini, demikianlah. Aku menggoreng tahu sunyi, kau memetik gitar sakanada. Semua di luar terus mengalir sahaja..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Panda mengunyah peppermint..  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada gosip soal serombongan tikus mati di Kutub Utara..      &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai pada suatu hari seorang bidadari tembam memberi kabar: kisah kita mungkin akan bersambung.. Mungkin? Ya, mungkin saja! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, kerna masih semata kemungkinan. Mari, kita syukuri dulu. Mari, kita biarkan teka-teki selesai utk sementara. Berhenti dulu menerka-nerka.   &lt;br /&gt;   &lt;br /&gt;"Good night, Red." bisikku di tiang pancang malam. Angin semilir, buah mangga jatuh. Dan racauan ini selesai. Untuk sementara.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/37231711-551232164911332818?l=afrizaprops.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://afrizaprops.blogspot.com/feeds/551232164911332818/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=37231711&amp;postID=551232164911332818' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/37231711/posts/default/551232164911332818'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/37231711/posts/default/551232164911332818'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://afrizaprops.blogspot.com/2011/02/missing-red.html' title=''/><author><name>Indra Afriza</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13607744542905509680</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_U78_aSG2NqI/SukQCBIEZeI/AAAAAAAAAFw/EStaWPknMSg/S220/animme.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-37231711.post-65112786929186555</id><published>2010-10-14T11:35:00.001-07:00</published><updated>2010-10-14T11:35:58.753-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>Hari ini aku sedih sekali. Kepingin mengutuk maki. Tahi kucing dan semacamnya. Panitia brengsek! Hilang sudah kegembiraan selama masa penantian..&lt;br /&gt;Hasil riset berhari-hari, kerja pematangan, penggarapan.. Hilang begitu saja.. Sirna, musnah.. Bahkan tanpa setetes minyak bagi lentera jiwa.. Aku luruh, lara, merasa dungu tiada terkira.. Aku jatuh, dalam putaran kegusaran.. Brengsek! Mestikah aku jadi mestika sunyi.. Kembali?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Panitera siaaalaaaaannn...!!!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/37231711-65112786929186555?l=afrizaprops.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://afrizaprops.blogspot.com/feeds/65112786929186555/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=37231711&amp;postID=65112786929186555' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/37231711/posts/default/65112786929186555'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/37231711/posts/default/65112786929186555'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://afrizaprops.blogspot.com/2010/10/hari-ini-aku-sedih-sekali.html' title=''/><author><name>Indra Afriza</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13607744542905509680</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_U78_aSG2NqI/SukQCBIEZeI/AAAAAAAAAFw/EStaWPknMSg/S220/animme.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-37231711.post-7670908732385267445</id><published>2010-09-23T10:38:00.001-07:00</published><updated>2010-09-23T10:38:26.021-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>aku mengenalnya sebagai manusia kota pada umumnya; sekali tempo sanggama, sesekali jojing-jojing, sekali tempo juga beribadat. Sebagai lelaki, dia cukup komplit; pernah patah dan mematahkan, pernah memukul dan terpukul, juga pernah jalan-jalan tanpa biaya (cuma lelaki, dalam opini publik, yang boleh begini dan dapat predikat 'macho'). Seringpula nubruk dan lalu berdusta. Seolah tak berdosa, tak berdaya, atau tak beroda. Komplit sudah, bejat di pelupuk mata, bisul yang tak terlihat jiwa.&lt;br /&gt;Cuma satu hal yang belum bisa dia lakukan: berhenti jadi buaya.&lt;br /&gt;Tobatlah, kawan. Kegantenganmu akan lebih mantap, saat kau mulai mengenal kata SETIA.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/37231711-7670908732385267445?l=afrizaprops.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://afrizaprops.blogspot.com/feeds/7670908732385267445/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=37231711&amp;postID=7670908732385267445' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/37231711/posts/default/7670908732385267445'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/37231711/posts/default/7670908732385267445'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://afrizaprops.blogspot.com/2010/09/aku-mengenalnya-sebagai-manusia-kota.html' title=''/><author><name>Indra Afriza</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13607744542905509680</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_U78_aSG2NqI/SukQCBIEZeI/AAAAAAAAAFw/EStaWPknMSg/S220/animme.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-37231711.post-901828795161673609</id><published>2010-09-05T17:07:00.001-07:00</published><updated>2010-09-05T17:07:36.131-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>Dan di tempat ini, kembali ku berkontemplasi. Di antara kotak kaku porselain, pintu kayu dengan ukiran minimalis, bau sangit yang samar. Lalu kabut tercipta di antara bening mata.. permaafan seolah tertahan di kerongkong, menanti untuk dimuntahkan..&lt;br /&gt;Waaahh.. Kok jadi puisi lageee... Salah halaman nehh.. Gimana seehhh..!&lt;br /&gt;Harusnya gini: salam buat harga cabai dan teman2 dari grup sembakauw.. Hebat euy, melonjak terouussss..!&lt;br /&gt;Geetoooohh..!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/37231711-901828795161673609?l=afrizaprops.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://afrizaprops.blogspot.com/feeds/901828795161673609/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=37231711&amp;postID=901828795161673609' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/37231711/posts/default/901828795161673609'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/37231711/posts/default/901828795161673609'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://afrizaprops.blogspot.com/2010/09/dan-di-tempat-ini-kembali-ku.html' title=''/><author><name>Indra Afriza</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13607744542905509680</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_U78_aSG2NqI/SukQCBIEZeI/AAAAAAAAAFw/EStaWPknMSg/S220/animme.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-37231711.post-7372815777370837362</id><published>2010-09-05T14:40:00.001-07:00</published><updated>2010-09-05T14:40:03.404-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>"kubaca lagi kata-katamu, apakah itu benar dirimu? Atau kebencian yang ditularkan? Aku berserah, meski dalam gatal. Kubaca lagi penghinaanmu, apakah itu benar hatimu? Ataukah solidaritas sakit hati anggota persekutuan? Aku berserah, meski terasa ada yang pecah.."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalo gua bilang sih: semoga lu baek2 aja. Cuma sebentar kok, masa ulang-alik itu; dan setelahnya, waktu yg akan membuktikan: apa lu sukses jadi astronot.. atau malah meledak seperti Chalenger.. Pada saat itu, berserahlah.. setiap akhir membawa hikmah, pastikan! Biar titik akhirmu tidak terbuang percuma.. begitu saja.&lt;br /&gt;Doaku menyertaimu, ku, dan kita.. Sebagai sahabat. Tak lekang dijajar puji, tak luntur dipulas caci. Teruslah berkarya, dan.. Berharap indahnya keabadian. Semoga awet!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/37231711-7372815777370837362?l=afrizaprops.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://afrizaprops.blogspot.com/feeds/7372815777370837362/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=37231711&amp;postID=7372815777370837362' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/37231711/posts/default/7372815777370837362'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/37231711/posts/default/7372815777370837362'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://afrizaprops.blogspot.com/2010/09/kubaca-lagi-kata-katamu-apakah-itu.html' title=''/><author><name>Indra Afriza</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13607744542905509680</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_U78_aSG2NqI/SukQCBIEZeI/AAAAAAAAAFw/EStaWPknMSg/S220/animme.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-37231711.post-218633860569615882</id><published>2010-09-05T07:32:00.001-07:00</published><updated>2010-09-05T07:32:06.586-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>nguprak-nguprek status.. malaass. Bikin motivasi WTW.. malaass. Kasih saran ke temen, yg diberi malah bela diri: Kungfu lageee.. salah paham lageee.. perang kata diam2 lagee.. akhirnya mentok di lelucon, asal damai, sekedar hadir.. ciss!&lt;br /&gt;jadi rindu masa banting2 meja dan kursi bersama, teriak2 api, lalu tetep ngopi dan ketawa bareng setelahnya.. sejati cuma dikit, tapi sekali dapet, bisa awett sampe mati.. demi yg kayak gitu, gua siap sabar.. buat yg sensi: nih, lelucon asal hadir untuk kalien!&lt;br /&gt;(sengaja 'kalien', bukan 'kalian', ada ilmunya tuhh.. pustaka! pustaka!)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/37231711-218633860569615882?l=afrizaprops.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://afrizaprops.blogspot.com/feeds/218633860569615882/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=37231711&amp;postID=218633860569615882' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/37231711/posts/default/218633860569615882'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/37231711/posts/default/218633860569615882'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://afrizaprops.blogspot.com/2010/09/nguprak-nguprek-status.html' title=''/><author><name>Indra Afriza</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13607744542905509680</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_U78_aSG2NqI/SukQCBIEZeI/AAAAAAAAAFw/EStaWPknMSg/S220/animme.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-37231711.post-2931048017836117262</id><published>2010-09-05T06:31:00.001-07:00</published><updated>2010-09-05T06:31:52.268-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>Mereka selalu iri pada kita.. mengapa mereka iri? Padahal mereka punya banyak menara duniawi?&lt;br /&gt;Aah.. mungkin karena kita punya menara yang hakiki.. kita punya menara kemungkinan, dari tubir kalbi.. &lt;br /&gt;Jaga!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/37231711-2931048017836117262?l=afrizaprops.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://afrizaprops.blogspot.com/feeds/2931048017836117262/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=37231711&amp;postID=2931048017836117262' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/37231711/posts/default/2931048017836117262'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/37231711/posts/default/2931048017836117262'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://afrizaprops.blogspot.com/2010/09/mereka-selalu-iri-pada-kita.html' title=''/><author><name>Indra Afriza</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13607744542905509680</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_U78_aSG2NqI/SukQCBIEZeI/AAAAAAAAAFw/EStaWPknMSg/S220/animme.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-37231711.post-9191895773524033544</id><published>2010-09-02T10:28:00.000-07:00</published><updated>2010-09-02T10:28:01.748-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='tomat'/><title type='text'>Selepas Pukul 12 Malam, Dia Beralih Menjadi... Tomat</title><content type='html'>&lt;blockquote&gt;&lt;i&gt;Untuk seorang sahabat...&lt;/i&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: grey; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: grey; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="color: black; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: justify;"&gt;Tak ada yang tahu. Di balik tawanya yang berkumpar dan menggelegar, ada bulir air mata yang berkejaran dengan aliran keringat dingin di paras terajam siksa. Kami menyukai dan terbawa oleh tawa nan riang itu, tanpa mengetahui derita apa yang tersimpan rapi di dalamnya. Kami tak pernah melihat saat sekujur tubuhnya gemetaran, dengan keringat dingin membanjir, mencoba untuk bertahan melawan rasa sakit. Tak jua kala geliginya bergemeretuk, dipadani semburat merah di mata beningnya, bersama lapisan jangat yang meradang bagai terbakar. Apalagi tetes darah yang mengalir dari bagian bawahnya. Jelas, kami juga tak pernah melihat betapa toilet itu dipenuhi rona tragis kemerahan, seperti berbotol-botol saus tomat ditumpahkan di sana. Dia selalu menyiram dan membersihkan semua luka-dukanya: sendirian. Tak ada satupun dari kami yang tahu, dan dia tak pernah merasa perlu untuk memberitahu.&lt;/div&gt;&lt;div style="color: black; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: justify;"&gt;&lt;br style="font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px;" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: black; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: justify;"&gt;Saat bersama kami, yang ada hanya gurau jenakanya. Lelucon cerdasnya, sindiran sarkastisnya (yang menakik tajam, tanpa tinggalkan bekas luka), dan juga sikap terbukanya kepada semua cerita sahabat. Saya terkagum ketika pada suatu hari, markas kami diramaikan oleh seorang radikal pemula yang mengoceh berapi-api mengenai bagaimana sajak semestinya dibegini-begitukan, membuat telinga kami (yang sudah berasam-garam menggotong-gotong puisi dengan suka-duka yang menumpuk) jadi agak panas dibuatnya... Teman kami itu justru mendengarkan ocehan si radikal muda dengan penuh perhatian, sambil perlahan mengarahkan tanpa memaksa. Dia memberi tempat, dia merangkul dan memberi pilihan. Sampai saat ini bocah radikal itu tak menyadari bahwa dia telah melantur di hadapan seorang pegiat puisi yang ulasannya mengenai karya-karya T.S. Elliot telah dimuat dalam Jurnal Sastra internasional dan menuai puji dari profesor sastra dari berbagai negara. Teman kami yang riang dan selalu meramaikan suasana, ternyata pula teramat rendah hati dan bijaksana. Saya pun terkagum-kagum dibuatnya.&lt;/div&gt;&lt;div style="color: black; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: justify;"&gt;&lt;br style="font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px;" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: black; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: justify;"&gt;"Suatu hari nanti, gua bakal mati dimakan cacing pita..." Celotehnya pada suatu senja. Kami hanya tertawa, menganggap ucapan itu sebagai salah satu dari leluconnya. Kami tak sadar, dan tak pernah terlintas dalam pikiran: bahwa seekor 'cacing pita' besar sungguh-sungguh sedang mengerogoti kesehatannya dari dalam. Dia tetap saja menjadi pusat keramaian dengan celoteh kreatifnya, sumur tawa riang yang tak kunjung kering. Dia selalu jadi seberkas cahaya terang saat kami mulai suntuk dan dimakan kuasa gelap kebosanan.&lt;/div&gt;&lt;div style="color: black; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;br style="font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px;" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: black; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: justify;"&gt;Tak ada satupun dari kami yang tahu, dan dia tak merasa cukup penting untuk memberitahu. Bahwa tiap lepas tengah malam, dia beralih rupa menjadi tomat.&lt;/div&gt;&lt;div style="color: black; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;br style="font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px;" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: black; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px; text-align: justify;"&gt;Tak ada yang tahu, sampai segala sesuatunya telah menjadi begitu terlambat.&lt;/div&gt;&lt;div style="color: black; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;br style="font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px;" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: black; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;br style="font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px;" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: black; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;br style="font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px;" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: black; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;--Bachelor Room 1704, 11th August 2010--&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/37231711-9191895773524033544?l=afrizaprops.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://afrizaprops.blogspot.com/feeds/9191895773524033544/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=37231711&amp;postID=9191895773524033544' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/37231711/posts/default/9191895773524033544'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/37231711/posts/default/9191895773524033544'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://afrizaprops.blogspot.com/2010/09/selepas-pukul-12-malam-dia-beralih.html' title='Selepas Pukul 12 Malam, Dia Beralih Menjadi... Tomat'/><author><name>Indra Afriza</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13607744542905509680</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_U78_aSG2NqI/SukQCBIEZeI/AAAAAAAAAFw/EStaWPknMSg/S220/animme.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-37231711.post-3928745187280051761</id><published>2010-08-01T01:41:00.000-07:00</published><updated>2010-08-01T01:41:58.670-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='YN'/><title type='text'>Idem Dito!</title><content type='html'>&lt;b&gt;Vincensia&lt;/b&gt;: enak diulang dan perlu... ehem, ehemm..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;--- In yuk-nulis@yahoogroups.com, "Vincensia" &lt;vincensia_naibaho@...&gt; wrote:&lt;br /&gt;&amp;nbsp; &lt;b&gt;Aku kira bertanya sah-sah saja. Tapi kukira tidak sulit bagi kita menilai suatu pertanyaan, apakah itu betul2 pertanyaan yg butuh jawaban, atau pertanyaan yang menyudutkan, atau pertanyaan yang menyindir. Please deh...&lt;/b&gt; &lt;br /&gt;--- &lt;/vincensia_naibaho@...&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/37231711-3928745187280051761?l=afrizaprops.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://afrizaprops.blogspot.com/feeds/3928745187280051761/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=37231711&amp;postID=3928745187280051761' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/37231711/posts/default/3928745187280051761'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/37231711/posts/default/3928745187280051761'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://afrizaprops.blogspot.com/2010/08/idem-dito.html' title='Idem Dito!'/><author><name>Indra Afriza</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13607744542905509680</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_U78_aSG2NqI/SukQCBIEZeI/AAAAAAAAAFw/EStaWPknMSg/S220/animme.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-37231711.post-2634018501695533809</id><published>2010-03-27T21:50:00.000-07:00</published><updated>2010-03-27T21:52:24.134-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='yuknulis'/><title type='text'>Antara Moderator dan Kontributor</title><content type='html'>&lt;p align="justify"&gt;Peribahasa 'Lain Padang, Lain Ilalang' rasanya masih bisa diterapkan sampai saat ini –dasar orang Sumatera, bawaannya kalo ga pantun ya peribahasa, hehee. Kita sedapat mungkin menyesuaikan diri dengan lingkungan di mana kita berada. Sebagai seorang penulis daring yang sudah asem-garem sejak jaman SMA dulu, saya telah mengirimkan tulisan saya ke berbagai komunitas kepenulisan di jagad maya. Dari yang 'normal' sahaja semacam BUMI MANUSIA, EMULE Poetry, 8HoP..., sampai pada kumpulan yang 'kurang sesendok' seperti CERITA_S*RU, BIRU****, DESAH****... (semuanya sudah lenyap karena ga kuat membayar hosting). Berbagai jenis, tema, dan bentuk tulisan asyik bergelunturan. Pada setiap tempat, saya selalu berusaha menyesuaikan jenis tulisan sesuai komunitas yang saya kunjungi. Sikap itu pada awalnya bukan sebab saya memang bijaksana dalam memilah; namun kerna sebelumnya saya sudah sempat dimaki, diberangus, dan dimasukkan daftar hitam admin dari Papua sampai New Guinea (jiaah? Deket dong?). Dari semua itulah, saya belajar dan mendapat pengalaman.&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Pelajaran pertama: Semua tak Sama ('ngutip judul lagu PADI). Beberapa tulisan saya di BIRU**** mengundang pujian dan bahkan mendapat rating Bintang 5, kerna tidak sekadar 'saru' tapi juga punya alur cerita yang menarik (itu kata yang baca lhoooo...) Namun bila tulisan tersebut saya muat di tempat lain seperti Komunitas Cahya-Kalbu, misalnya, tentu reaksi yang didapat akan jauh berbeda: boro-boro dapat rating Bintang 5, yang ada malah overdosis Bintang 7 (obat pusing) karena sakit kepala dihujat beramai-ramai oleh segambreng anggota komunitas yang bersangkutan.&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Pelajaran ke-dua: Semua Tak Sama (hmm... berasa de ja vu ga sih?) Untuk pihak moderator, sebaiknya jangan terlalu sadis saat memberi teguran. Tidak semua penulis punya muka tembok seperti saya soalnya. Bahkan ada teman saya yang sampai bersumpah tak mau menulis lagi setelah karyanya dihujat habis-habisan oleh seorang moderator. Ingat: tidak semua yang 'jelek' itu diawali dengan niat buruk. Berilah teguran dengan niat dan sikap membimbing. Memberi petunjuk arah lebih dihargai tinimbang menutup jalan. Demikianlah kiranya.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;Akhirul kalam: lain padang, lain ilalang.. lain medan, lain surabaya.. lain jogja, lain cibinong. Sampai jumpa lagi di Pontianak. Merdeka!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/37231711-2634018501695533809?l=afrizaprops.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://afrizaprops.blogspot.com/feeds/2634018501695533809/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=37231711&amp;postID=2634018501695533809' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/37231711/posts/default/2634018501695533809'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/37231711/posts/default/2634018501695533809'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://afrizaprops.blogspot.com/2010/03/antara-moderator-dan-kontributor.html' title='Antara Moderator dan Kontributor'/><author><name>Indra Afriza</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13607744542905509680</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_U78_aSG2NqI/SukQCBIEZeI/AAAAAAAAAFw/EStaWPknMSg/S220/animme.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-37231711.post-6985558704187873439</id><published>2010-01-14T08:22:00.000-08:00</published><updated>2010-01-14T08:22:32.291-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Packaging'/><title type='text'>Sebuah Essei tentang Kertas Karton</title><content type='html'>Setelah kurang-lebih 1 bulan aku berpindah bagian dari IT ke PPIC, kini aku hendak membuat catatan mengenai sebuah pelajaran yang kudapat di sana. Sebuah telaah mengenai apa yang selama ini aku kenal sebagai kertas karton.&lt;br /&gt;Dalam dunia kotak kardus, ada beberapa istilah dan simbol dasar yang perlu diketahui bila anda memutuskan untuk berkecimpung di dalamnya. Pada awalnya adalah kertas. Ya, karton adalah salah satu jenis kertas. Jenis kertas karton, sama seperti kertas lain, ditentukan harganya melalui grammature (tipe berat kertas). Tipe berat yang umum digunakan biasanya adalah 125 gram dan 150 gram.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang kedua adalah tipe lapisan. Lapisan luar dari sebuah penampang kardus, yang mulus/rata dan biasa ditulisi oleh marking (merek atau identitas isi dari kardus), disebut sebagai Kraft (K). Sementara lapisan dalam, agak kasar berserabut dan berwarna coklat/putih kusam, disebut sebagai Medium (M). Selain 2 lapisan umum tersebut ada juga lapisan Kraft yang kualitasnya lebih baik dan berwarna putih, biasa disebut sebagai White Kraft.&lt;br /&gt;Dengan keterangan di atas kita bisa mendapatkan jenis dan kualitas karton yang kita inginkan dengan mencantumkan simbol-simbol seperti K125, K150, M125, M150,... ingat, semakin berat grammature-nya maka semakin mahal pula harganya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang ke-tiga adalah tipe lapisan tambahan berupa kertas dengan alur/gelombang yang disebut sebagai Float. Ada 3 jenis Float yang berada di pasaran, di mana jenisnya ditentukan melalui tinggi gelombangnya:&lt;br /&gt;1) AF : paling tinggi,&lt;br /&gt;2) CF : tinggi, tapi lebih pendek dari AF,&lt;br /&gt;3) BF : paling pendek&lt;br /&gt;Semua lapisan bergelombang ini sebenarnya masuk dalam tipe lapisan M (Medium), sehingga untuk menentukan tipenya kita menggunakan simbol seperti: M125x2 BF (1 lapisan medium rata dan 1 lapisan bergelombang, tipe ini biasa disebut juga sebagai layer Single Face (S/F)), M125x3 CF (2 lapis medium rata dengan 1 lapisan medium bergelombang di tengahnya).&lt;br /&gt;Untuk melengkapi simbol di atas biasanya disertakan simbol tambahan yaitu S/W (Single Wall) atau D/W (Double Wall). Lapisan Medium di bawah 3, otomatis menggunakan tipe S/W, sementara lapisan di atas 2 bisa menggunakan S/W atau D/W. Secara sederhana, Wall dapat diartikan sebagai dinding penutup dari lapisan Float. Bila 2 sisinya ditutup, dengan lapisan gelombang berada di dalam lapisan K atau M, maka tipe kertasnya adalah Double Wall (D/W); namun bila salah satu lapisan gelombangnya tidak dilapisi oleh lapisan K atau M, maka tipenya adalah Single Wall (S/W).&lt;br /&gt;Untuk memotong kertas karton ke dalam ukuran yang diinginkan bisa menggunakan 2 metode pemotongan, yaitu dengan mesin potong slits/Flits yang menghasilkan potongan agak kasar, atau menggunakan mesin dengan pisau ponds untuk menghasilkan pemotongan yang lebih halus dan rata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baiklah untuk sementara itu saja dulu rumusan yang dapat saya jelaskan dalam kesempatan ini. Untuk menguji pemahaman, coba artikan sombol berikut ini:&lt;br /&gt;K125/M125x4 CBF, D/W&lt;br /&gt;lalu, coba jelaskan: apakah M125x3 bisa dimasukkan dalam kategori S/W ?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/37231711-6985558704187873439?l=afrizaprops.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://afrizaprops.blogspot.com/feeds/6985558704187873439/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=37231711&amp;postID=6985558704187873439' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/37231711/posts/default/6985558704187873439'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/37231711/posts/default/6985558704187873439'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://afrizaprops.blogspot.com/2010/01/sebuah-essei-tentang-kertas-karton.html' title='Sebuah Essei tentang Kertas Karton'/><author><name>Indra Afriza</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13607744542905509680</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_U78_aSG2NqI/SukQCBIEZeI/AAAAAAAAAFw/EStaWPknMSg/S220/animme.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-37231711.post-1523877531534450723</id><published>2009-09-05T09:27:00.001-07:00</published><updated>2009-09-05T09:36:50.062-07:00</updated><title type='text'>Once More: Life as an Ocean of Possibilities</title><content type='html'>&lt;p align="justify"&gt;Again, I declare my creed: Life is an ocean of possibilities. The way it twist in its unpredictable turns… wow… what else can i do but to be amaze and eulogize of anything in it? &lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;I should say that there’s no absolute guarantee in life, yet to behold that as the truth would simply takes us to the spot of everlasting anguish. The same spot that hit Kierkegaard right on the back of his head. So everyone trying to buy insurance, some even subscribe for membership; either by will or by descendant traits. Just to feel safe and turning away from the eternal anguish? Then it is the major dullness for all subscribers. To run or turn away and not facing the unshaken truth. How then? ah, be patient dear Watson, for nothing so elementary when you open your self for understanding the Grand Concept.&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;In every good religion there’s always a chance to giving to chances. That’s why there’s prayers: to open the doors of hope in any condition, even in the most pathetic situation. By embracing that, folks with faith are trying their best to make peace with the anguish. Not to evade that is, but more to accept the inalienable truth that chances are not ours to rule. Hope, in this state of apprehension, is something that is always There. The only thing people can expect is to reach for it, by the sanest means possible and eligible to the rules of faith that’s been taken as guidance.&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;&lt;em&gt;jamais dite jamais&lt;/em&gt;. With the believe that all these surroundings are temporal, religion guide the believers to suspend the rightness of Right, simply because it won’t last. The wisest thing to do, for the time being, is to put the Right as a street mark or milestone. To show us the way that’s been used in process of approaching the Promised Land.&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;In totem pro parte: can’t hate anything for sure, because something I hate could be what I am in the future, and vice versa.&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;Just embrace everything with a sense of forgiveness, first to the self then to the situation. Have some coffee every evening with something that still in the vague. Breath the air, and release all self detention.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Get to know, to eulogize, and to accept… for all these are all mere possibilities.&lt;/p&gt;  &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/37231711-1523877531534450723?l=afrizaprops.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://afrizaprops.blogspot.com/feeds/1523877531534450723/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=37231711&amp;postID=1523877531534450723' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/37231711/posts/default/1523877531534450723'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/37231711/posts/default/1523877531534450723'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://afrizaprops.blogspot.com/2009/09/once-more-life-as-ocean-of.html' title='Once More: Life as an Ocean of Possibilities'/><author><name>Indra Afriza</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13607744542905509680</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_U78_aSG2NqI/SukQCBIEZeI/AAAAAAAAAFw/EStaWPknMSg/S220/animme.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-37231711.post-4406697590309995663</id><published>2009-04-07T18:44:00.001-07:00</published><updated>2009-04-07T18:44:51.396-07:00</updated><title type='text'>A Tribute to Jimmo</title><content type='html'>&lt;p&gt;&amp;#160;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Para penonton mulai berteriak-teriak ramai…&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;“Ayooo… menulislah! Tulis lagi.. tuliskanlahh…!”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;--Tapi aku belum punya inspirasi..?&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;“Perduli kambing dengan terasi! Ayoo.. tuliss! tuliskan apa saja yang bisa kau tuliss..! Kami menungguuuu..!”&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;Lalu mereka mulai melemparkan berkuntum bunga poppy, berlinting-linting ganja, stik-stik opiat, kutang, kancut, spiral, pil kb, juga siraman Old Turkey Whiskey dalam kantung plastik tahan santan.. semuanya mereka lemparkan ke atas panggung tempatku berdiri dalam nyanyi sunyi.&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;Aku mengambil selinting ganja pemberian mereka dan mengisapnya dengan gaya Sid Vicious, lalu mengambil 1 stik opiat dan memasukkannya ke dalam rongga hidung, tarik habis, meluncur ke tenggorokan, singgah ke urat syaraf di kepala, lalu ke paru-paru, lambung.. takdir mati muda menunggu..&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;“Ayoo.. menulislah! Kami menungguuuuu-muuuuu…!”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Aku mengalah dan mulai bersenandung…&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;em&gt;…Riders on the storm, riders on the storm      &lt;br /&gt;into this house we’re born,       &lt;br /&gt;into this world we’re thrown;       &lt;br /&gt;Like a dog without a bone,       &lt;br /&gt;Actors all alone;       &lt;br /&gt;Riders on the storm…&lt;/em&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Para penonton semakin ramai menjerit-jerit…&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;“Gilaaa..! Dahsyaaaatt..! Kau memang manusia setengah dewa..!”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;--Tapi itu bukan kata-kataku, itu adalah kata-kata warisan mendiang Jim Morrison..&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;“Perduli bebek dengan parkinson..! Kami mencintaimu, karena kau bisa kami sentuh..!”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Dari sudut lain, sekumpulan wanita berambut api berteriak histeris: “Mari berkopulasi..! Mareeeee…! Aku ingin punya anak darimu..!”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Untuk menenangkan mereka, aku kembali bersenandung…&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;em&gt;…Like a dog without a bone,      &lt;br /&gt;Actors all alone..&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Suasana semakin tak terkendali, semua orang merangsek ke atas panggung, mereka semua ingin sebagian dari diriku. Seperti sekumpulan anak-anak yang berebut layangan putus.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Aku ditelanjangi, disetubuhi beramai-ramai… lelaki dan perempuan.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Semuanya menjadi gelap…&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Segera kuputuskan untuk menulis sebuah pesan untuk semua teman dari masa lalu:&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;“Cuy, percayalah.. jalani aja hidup rutin kalian.. pergi pagi pulang petang.. tiap hari mikirin hutang… itu semua lebih aman dan tenang, ketimbang harus jadi manusia setengah dewa.. TTD: Indra Afriza.”&lt;/p&gt;  &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/37231711-4406697590309995663?l=afrizaprops.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://afrizaprops.blogspot.com/feeds/4406697590309995663/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=37231711&amp;postID=4406697590309995663' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/37231711/posts/default/4406697590309995663'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/37231711/posts/default/4406697590309995663'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://afrizaprops.blogspot.com/2009/04/tribute-to-jimmo.html' title='A Tribute to Jimmo'/><author><name>Indra Afriza</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13607744542905509680</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_U78_aSG2NqI/SukQCBIEZeI/AAAAAAAAAFw/EStaWPknMSg/S220/animme.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-37231711.post-2102590116495584656</id><published>2009-04-06T21:50:00.001-07:00</published><updated>2009-04-06T21:54:34.385-07:00</updated><title type='text'>Hanya Ada Satu Cinta</title><content type='html'>&lt;p align="justify"&gt;Mendadak pagi ini saya ingin mengawali hari dengan sebuah penegasan: Hanya ada satu hati untuk Cinta. Agak &lt;em&gt;jayus&lt;/em&gt; dan &lt;em&gt;basi&lt;/em&gt; memang, tapi penting untuk disadari dan perlu. Untuk menguatkan aksiom ini maka saya akan mengemukakan sebuah premis pendukung, serta menjalinkan sebuah thesa atas dasaran premis tersebut.&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;Aksiom ini dilatarbelakangi oleh serangkai peristiwa baik yang bersifat pribadi maupun yang berskala global. Untuk pemandangan pribadi, saya terpancing oleh perkataan pacar saya di suatu sore yang indah mengenai kemungkinan seseorang untuk ‘Make Love without Love’, apakah bisa? begitu pertanyaannya kepada saya. Untuk pemandangan yang lebih luas, saya tergerak untuk mengomentari beberapa pasangan selebrita yang memutuskan untuk berpoligami.&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;Kedua latar belakang yang saya sebutkan di atas, pada perkembangannya mengundang saya untuk menyelidiki ke dalam hati, pribadi dan juga sekitar, mengenai sebuah perasaan super hebat bernama Cinta.&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;Pertanyaan sang Pacar membuat saya terpaksa memilah manusia secara perbedaan jenis kelamin: Perempuan dan Lelaki. Konon kabarnya perempuan berpikir dengan hati sementara lelaki cenderung menggunakan kepala( entah itu kepala atas atau yang bawah), ada juga pendapat yang mengatakan bahwa perempuan memberi seks untuk mendapatkan cinta sementara lelaki memberi cinta untuk mendapatkan seks. Menurut literatur yang saya baca( studi pustaka saya paling akhir mengenai masalah ini adalah sebuah artikel di majalah Playboy –artikel yang cukup serius, meski digunakan di sana untuk mengiklankan minyak aromatik pengundang syahwat), bahwa yang benar-benar bisa membuka pintu masuk ke dalam jalan sanggama seorang perempuan, dalam kondisi sadar dan normal, hanyalah Cinta. Maka untuk melakukan proses penyatuan tubuh bersama seorang lelaki, terlebih dulu mereka harus mencintai pasangannya tersebut.&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;Bagaimana dengan para lelaki? Ah, coba ditanyakan pada diri sendiri, atau melihat acara penggerebekan tempat mesum di televisi. Lelaki tidak perlu jatuh cinta untuk melakukan persenggamaan, mereka hanya perlu keinginan untuk melaksanakan sebuah hajat yang tak tertahan. Ingin, cari, genjot, bayar, dan lalu pulang. Dari sini bisa dilihat bahwa lelaki bisa melakukan apa yang disebut kelompok Air Supply dengan istilah ‘Making Love out of Nothing at all’, atau menurut istilah pacarku: MaLWiL. Meski rasanya istilah yang tepat untuk kondisi ini bukanlah ‘Make Love Without Love’, akan tetapi&amp;#160; lebih kepada ‘Persetubuhan tanpa Cinta’; istilah ini juga menegaskan bahwa untuk &lt;em&gt;Make Love &lt;/em&gt;(bercinta) tentu tetap saja kita membutuhkan kehadiran Cinta untuk mengesahkan dan mengindahkan prosesinya.&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;Lalu apakah lelaki tidak bisa merasakan dan atau membutuhkan Cinta? Tentu saja bisa! Lelaki juga membutuhkan Cinta. Persetubuhan dengan seorang pelacur tentu saja beda rasanya dengan penyatuan tubuh antar sepasang manusia yang saling mencinta. Ada proses saling menjaga, saling memperhatikan, hingga tidak memaksakan, hingga bisa saling mabuk tanpa menjadi liar tanpa aturan, ada senyum tersipu, ada rasa malu-malu yang menggemaskan, rona merah jambu, serta keabadian dalam sebuah pelukan sederhana; semua proses ini berlaku sama, baik pada lelaki maupun perempuan. Kita perlu memisahkan pengertian antara Cinta dan Syahwat.&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;Cinta adalah sebuah mahakarya adiluhung dari sekeping entitas bernama Hati pemberian Illahi. Dia begitu indah, karena bisa membuat yang merasakannya serasa berada di taman 1000 mawar; pula begitu kuat, karena bisa membuat pemiliknya dihantam kegelisahan tingkat tinggi –tak bisa tidur, tak enak makan, serta diganjar rindu-dendam yang selalu mempertanyakan keberadaan, baik itu keberadaan sang kekasih maupun keberadaan dirinya di hati sang kekasih; begitu cerdas, semua masalah seolah pergi bergegas –saat cinta dalam genggaman, tak ada masalah yang tak bisa diselesaikan. Begitu privat. Misterius. Rumit, menolak dari segala kemungkinan penyimpulan, dan peringkasan –oleh karena itu saya tak mau membahas Cinta terlalu dalam, karena saya tak akan mampu untuk meringkasnya dalam sebuah kesimpulan.&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;Menghadapi entitas sehebat itu, manusia datang dengan segala keterbatasan pemikiran dan pemahamannya. Di sinilah letak permasalahan yang utama: Manusia kurang persiapan untuk menyambut Cinta, namun teramat &lt;em&gt;kebelet&lt;/em&gt; untuk bisa memilikinya.&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;&lt;strong&gt;Aksiom 1:&lt;/strong&gt; Manusia selalu dibayangi oleh keinginan untuk memiliki Cinta.&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;Tinjauan berikut adalah soal Poligami. Mengapa ketidaksetiaan terjadi? Mari melihat ke dalam diri. Mengapa seorang Ustadz kondang yang telah memiliki seorang istri yang cantik nan sholihah( sebutlah namanya itu: Teteh), mesti kepikiran untuk menikah lagi? Jangan tanya itu kepada Teteh. Saya tidak mau berpanjang opini soal benar-salah di sini, kerna saya hanya membutuhkan perangkat wacana yang satu ini untuk menuju ke aksiom berikutnya.&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;Seorang Ustadz adalah juga seorang manusia, biasa pula. Tak ada yang istimewa secara berlebih, biasa saja. Semua hukum dan tatanan sebab-akibat pada diri manusia berlaku sama pada mereka. Mereka juga, merujuk pada Aksiom 1, selalu dibayangi keinginan untuk memiliki Cinta. Pada titik inilah Teteh harus mulai waspada dan belajar menganalisa kondisi dengan stabilitas yang jernih; dia mesti bisa menerima bahwa semua alasan mulia yang dikemukakan oleh si Ustadz, suaminya itu, hanyalah sebuah pembenaran untuk menenangkan hati. Mengikhlaskan diri terkadang hanya sebuah pelarian dari sikap ‘tak bisa apa-apa lagi’. Jadi, kemungkinan apakah yang bisa digali dari kondisi ini?&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;Si Ustadz juga sedang belajar mengenai Cinta dengan segala keterbatasannya. Lalu dia bertemu dengan seseorang yang dia anggap sesuai dengan hasil pembelajarannya tersebut. Ternyata gayung bersambut, dan selanjutnya adalah… sejarah. Nah, setelah ini, Teteh seharusnya bisa menjawab pertanyaan ini: Kepada siapakah suaminya melabuhkan sebuah rasa yang, menurut pemahaman dan tingkat wawasan suaminya pada saat itu, dianggapnya sebagai Cinta?&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;&lt;strong&gt;Aksiom 2:&lt;/strong&gt; Cinta itu berbeda dari perasaan belas-kasih atau interaksi kepedulian sosial; meski dia bisa tumbuh dari sana, tetap saja: Tidak sama.&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;Melanjut pada kasus poligami berikutnya. Ada seorang pengusaha rumah makan sukses yang mempunyai 10 orang istri. Bila ditanya apakah dia mencintai semua istrinya itu, maka dia akan menggelunturkan jawaban bersifat retorika sebelum akhirnya terpaksa untuk mengatakan: YA. Apakah anda akan mempercayai jawabannya? Jangan tanya itu pada istri-istrinya.&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;Mari menggunakan Aksiom 1 untuk menelusuri jejak roman si pengusaha. Dia adalah manusia, dan dia selalu dibayangi keinginan untuk memiliki cinta. Gabungkan dengan Aksiom 2; di mana dia, sebagai pengusaha, selalu berinteraksi dengan berbagai kalangan( wanita ) dalam kehidupan sosialnya, lalu tumbuh perasaan belas-kasih yang, pada 10 kasus, gayungnya tersambut –mungkin untuk kasus-kasus yang lain dia mendapat sambitan gayung.&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;Jika pada kasus Ustadz dan Teteh, jawaban mengenai cintanya masih lebih mudah untuk ditelusuri. Maka untuk kasus si pengusaha, jawabannya sedikit lebih rumit, tapi sekaligus bisa dipintas dengan mudah. Maksudnya? Begini…&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;Si Ustadz dan si Pengusaha sebenarnya sama saja. Sama-sama lelaki dan sama-sama manusia. Si Pengusaha sebenarnya adalah sebuah perulangan dari Si Ustadz sebanyak 10 kali. Untuk memintas pengamatan kita atas cintanya si Pengusaha, kita bisa memakai hukum Gossen1: “Pemuasan atas sebuah obyek, lama-kelamaan akan mencapai titik jenuh.. sampai akhirnya kepuasan itu akan hilang”&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;Dari sini bisa kita lihat, bahwa pada awalnya si Pengusaha sedang menelusuri pemahaman tentang Cinta. Dan karena dia tidak kunjung puas atas persepsi yang dia peroleh dalam dirinya, maka dia terus mencari jawaban demi jawaban. Sebenarnya sikap begini adalah sikap seorang Sarjana jaman pendekar Tiongkok, belajar terus menerus tanpa pernah puas. Kesalahan terjadi ketika dia bermain-main dengan Rasa, sebuah konsep yang selalu subyektif, sehingga dia harus mengenal titik henti untuk bisa terwujud secara konkrit dalam diri individu. “Aku bilang Teh ini Manis, titik!” demikianlah sikap yang sebaiknya diambil si Pengusaha.&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;Namun terbawa dalam keberhasilan penguasaan dan penaklukan, si Pengusaha menolak untuk berhenti memuaskan diri. Sehingga pada akhirnya, kepuasan itu justru hilang. Berganti dengan perburuan Status dan pertunjukkan panggung sandiwara. Pada titik sebenarnya dia telah kehilangan sebuah persepsi tentang Cinta dalam dirinya. Bila dia mengatakan bahwa dia mencintai semua istrinya, atas dasar apa dia meletakkan perkataannya itu? Dia akan berbenturan pada banyak sisi kepribadian, sehingga pada akhirnya akan ada sebuah pelepasan tanggung-jawab yang disalah artikan sebagai sikap ikhlas.&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;Siapa di antara istrinya adalah wanita yang dia cintai? Atas dasar apa dia bisa menentukannya? Dia terlalu banyak mencocok-cocokkan apa yang dia rasa sebagai Cinta dan meminangnya, sehingga dia tidak tahu lagi sebenarnya cintanya itu berlabuh di mana… katakanlah semua istrinya itu adalah kepingan-kepingan dari apa yang dia sebut sebagai Cinta. Lalu bagaimana apabila nanti ada seorang wanita yang menyimpan semua kepingan itu menjadi satu bagian utuh dalam dirinya. Bila si pengusaha meminang pula wanita itu, mungkin bisa dikatakan bahwa dia telah menemukan cinta sejatinya. Tapi bagaimana status dari 10 istrinya yang lain? Hanya menjadi serpihan? Bahkan jika mereka dipertahankan pun, mereka tetap saja bukan perwujudan Cinta dari si pengusaha. Mereka cuma jadi kepingan buku teori tentang cinta, yang disimpan dalam lemari kayu jati di kamar si Pengusaha.&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;Mau ambil jalan damai? Silahkan. Wacana penawar gelisah bisa diminum di warung jamu terdekat. Tapi tetap tak bisa dipungkiri bahwa Cinta cuma ada satu.&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;&lt;strong&gt;PREMIS:&lt;/strong&gt; Hanya Bisa Ada Satu Cinta Spesifik Di Hati&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;Maka anda bisa saja bergumul penuh nafsu dengan seseorang, sementara anda memikirkan seseorang yang lain pada saat yang sama. Dia bisa saja cinta monyet dari jaman Sekolah Dasar, Dia bisa saja seseorang yang baru anda kenal dari situs jejaring sosial, Dia bisa saja seseorang yang baru tadi anda temui di jalan tapi mengucap kalimat yang anda kenang sepanjang jaman. Siapa saja bisa jatuh Cinta, kapan saja, di mana saja. Tapi waspadalah, bersiaplah untuk gelisah, kerna Cinta hanya ada satu dan kehadirannya bisa menjungkirbalikkan semua yang anda yakini sejak awal.&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;&lt;strong&gt;THESIS&lt;/strong&gt; yang tercipta dari Premis ini adalah: Syukuri Cinta di depan matamu, dan jalani keberadaannya dengan segenap rasa bahagia, berikan semua yang terbaik untuk Cinta, apa pun itu. Karena dia hanya satu, tak terbagi, meski mungkin hanya bisa tersimpan dalam hati; Berikan yang terindah.. hingga bila tiba saat untuk berpisah, hanya ada kenangan yang manis mengulas paras penuh ketulusan.&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;Seperti seulas senyum penuh syukur diiringi doa tulus untuk kebaikan sang kekasih, di mana pun dia berada.&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;Selamat Bercinta!!&lt;/p&gt;  &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/37231711-2102590116495584656?l=afrizaprops.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://afrizaprops.blogspot.com/feeds/2102590116495584656/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=37231711&amp;postID=2102590116495584656' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/37231711/posts/default/2102590116495584656'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/37231711/posts/default/2102590116495584656'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://afrizaprops.blogspot.com/2009/04/hanya-ada-satu-cinta.html' title='Hanya Ada Satu Cinta'/><author><name>Indra Afriza</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13607744542905509680</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_U78_aSG2NqI/SukQCBIEZeI/AAAAAAAAAFw/EStaWPknMSg/S220/animme.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-37231711.post-4268107532606365316</id><published>2009-01-13T02:51:00.001-08:00</published><updated>2009-01-14T18:06:05.329-08:00</updated><title type='text'>Semantika Filosofia</title><content type='html'>&lt;p&gt;Kali ini saya ingin mengajak anda untuk menganalisa sebuah kalimat secara psikologis dan juga filosofi semantika. Secara psikologis saya akan menyelami kalimat tersebut melalui tataran emosi dari pengutaranya, sedang secara semantik saya akan melihat susunan kata dalam kalimat tersebut dan mengapa dia bisa tersusun demikian. Untuk membatasi subyek penelitian, maka perlu diberi kejelasan mengenai si pengutara dan subyeknya. Untuk contoh kasus, si pengutara akan saya beri jenis kelamin perempuan, sementara subyeknya adalah seorang lelaki. Tujuan akhir dari analisa ini adalah membuat sebuah kerangka untuk penggubahan puisi berdasarkan kalimat dasar tersebut.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Kalimat yang akan dibahas adalah: “Dia itu masa lalu yang terindah… tapi juga menyakitkan…”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;1. Telaah Psikologis vis a vis Semantik&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Bila kita lihat dari sisi emosional, maka ada dua kata yang mempunyai daya penegasan emosi pada kalimat tersebut. Kata pertama adalah ‘terindah’, dan kata ke-dua adalah ‘menyakitkan’.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Masa Lalu. Kadar emosi yang tertangkap dalam pengutaraan dua kata ini adalah si pengutara ingin sekali melupakan subyek yang dia bicarakan, sebegitu inginnya maka dia perlu menegaskan pada dirinya, juga pada orang lain, bahwa subyek yang dia bicarakan ini adalah sebuah masa lalu. Penegasan ini mengandung kemarahan yang masif, apalagi jika diucapkan sambil tertawa tragis: usaha penghiburan diri yang gagal.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Secara semantik, kalimat awal ini bisa digantikan dengan beberapa kalimat alternatif seperti: “Aku ingin melupakanmu!” artinya: Aku ingin lupa tapi belum. Bisa juga dengan kalimat: “Dia sudah berlalu, pergi!” artinya: Menanyakan pada diri apakah Dia sudah berlalu, di mana jawabannya adalah: belum, sehingga perlu ada kalimat pengusir di ujung kalimat.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Terindah. Si pengutara kalimat jelas terkait erat sekali dengan subyek yang dia bicarakan. Ada unsur kekaguman yang berlebih di sini. Perempuan itu menganggap si lelaki sebagai sesuatu yang ‘terindah’. Lelaki ini, dalam penangkapan emosi cinta, memiliki tampilan fisik yang begitu memukau baginya. Ingat, bahwa dalam cinta semuanya tampak indah.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Secara semantik, kata ‘terindah’ setelah pengucapan ‘masa lalu’ dapat diartikan sebagai penegasan akan keindahan yang belum jua terlupakan. Ada yang membekas dalam diri si perempuan, sehingga si subyek ini tetap saja indah nyaris tanpa peduli dengan apa pun yang telah dia perbuat. Sehingga meski lelaki itu telah berlalu, keindahannya masih melekat dalam angan-angannya.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Itulah mengapa, secara semantik dan psikologis, kalimat ‘tapi juga menyakitkan…” ditempatkan si perempuan di ujung kalimatnya dan bukan di depan. Karena dia sebenarnya belum cukup matang untuk melepaskan lelaki tersebut secara apa adanya, yaitu: sebuah kenangan. Dia belum menyiapkan sebuah album emosi dalam dirinya untuk meletakkan kenangan akan lelaki tersebut secara wajar.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Ada ketidakjujuran dalam cara dia menangani perasaannya. Dia belum jujur mengenai hilangnya lelaki tersebut dalam kehidupannya, dia masih mengharapkan dan bertanya-tanya: apakah lelaki itu telah benar-benar berlalu. Ah, mungkin dia sedang bersembunyi di tekongan?&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Perempuan itu juga tidak jujur bahwa lelaki itu telah menyakitinya. Dia lebih mendahulukan keindahan yang termaktub dalam perasaannya yang terburamkan oleh rasa kagum. Meski di penghujung hari, rasa sakit itu tetap menjepit diri.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Beranjak dari kalimat pertama. Saya akan mencoba membuat sebuah anti tesis dalam bentuk kalimat pula.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Anggaplah waktu berlalu semenjak si perempuan mengatakan kalimat yang pertama, dia kini sudah lebih matang untuk menerima dan menyikapi berbagai cita dari cinta. Lalu seseorang yang sedang dekat dengannya menanyakan tentang siapa lelaki tersebut, dan dia pun menjawab dengan tenang:&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;“Dia adalah masa lalu yang menyakitkan, dan sebuah pelajaran yang terindah…”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Coba sekarang anda analisa, bagaimana kondisi perempuan itu saat dia mengucapkannya?&lt;/p&gt;  &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/37231711-4268107532606365316?l=afrizaprops.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://afrizaprops.blogspot.com/feeds/4268107532606365316/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=37231711&amp;postID=4268107532606365316' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/37231711/posts/default/4268107532606365316'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/37231711/posts/default/4268107532606365316'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://afrizaprops.blogspot.com/2009/01/semantika-filosofia.html' title='Semantika Filosofia'/><author><name>Indra Afriza</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13607744542905509680</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_U78_aSG2NqI/SukQCBIEZeI/AAAAAAAAAFw/EStaWPknMSg/S220/animme.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-37231711.post-484466656499561593</id><published>2008-08-03T18:48:00.000-07:00</published><updated>2008-08-03T19:01:16.607-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sudah Sore'/><title type='text'>Dari Sebuah Nama</title><content type='html'>&lt;em&gt;"Esei singkat ini saya siapkan sebagai bahan pustaka dan kerangka saat menggubah sebuah puisi yang saya beri judul: Untuk Sebuah Nama"&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap orang punya hak pribadi yang akan dia jaga untuk mempertahankan ke-pribadian-nya. Setidaknya sebagai cadangan terakhir untuk mempertahankan identitas diri. Identitas, sesuatu yang seringkali bisa diwakilkan oleh sebaris Nama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anda bisa saja memilih untuk tidak menghargai hak pribadi seseorang; Dengan imbalan: anda tidak hanya kehilangan pribadi tersebut sebagai seorang kawan, tapi juga sekaligus menghilangkan penghormatan dia terhadap pribadi anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anda tidak bisa mengharapkan semua orang untuk jadi sepaham dan sehaluan; sehebat apa pun pemahaman anda tentang segala hal: Aku dan Nenek tetap akan punya penilaian yang berbeda mengenai senja yang sama-sama kami nikmati pada saat dan posisi yang serupa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin ada:"oh ya, benar..", namun pasti ada juga:"Emmh.." atau "Mungkin.."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah kira-kira.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/37231711-484466656499561593?l=afrizaprops.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://afrizaprops.blogspot.com/feeds/484466656499561593/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=37231711&amp;postID=484466656499561593' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/37231711/posts/default/484466656499561593'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/37231711/posts/default/484466656499561593'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://afrizaprops.blogspot.com/2008/08/dari-sebuah-nama.html' title='Dari Sebuah Nama'/><author><name>Indra Afriza</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13607744542905509680</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_U78_aSG2NqI/SukQCBIEZeI/AAAAAAAAAFw/EStaWPknMSg/S220/animme.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-37231711.post-2666699406741881133</id><published>2007-11-22T18:34:00.001-08:00</published><updated>2009-01-16T18:04:22.702-08:00</updated><title type='text'>BAHASA RELIGIA</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Apakah sholat itu? Banyak sudah jawaban yang tersedia. Mulai dari kitab suci, kamus, sampai buku pelajaran agama Islam yang tersebar dari toko besar sampai di emperan pasar. Namun, sewajarnya manusia, pertanyaan memang perlu hadir untuk menemani keberadaannya. Ada yang sudah tahu dan menjalaninya dengan damai, ada yang sepertinya tahu namun agak tergagap-gagap bila harus memberi penjelasan, ada pula yang belum mengerti dan atau kurang begitu peduli untuk memahami. Saya sendiri belum mengerti tapi ingin mengerti, merasa peduli dan berusaha mencari jawab --setidaknya untuk saya pribadi. Karena saya merasa akrab dengan satu konsep yang bernama Bahasa, jadi saya putuskan untuk memulai langkah dari situ.&lt;/div&gt;  &lt;div&gt;&amp;#160;&lt;/div&gt;  &lt;div align="justify"&gt;Setelah membaca beberapa puisi tentang batu yang meratap, angin yang berbisik, dan gelombang laut yang memaki-maki, saya berangkat ke pulau makna dengan menumpang bahtera metafor. Di tengah perjalanan kapal disambut oleh angin yang menjerit, bersama badai yang terbahak, gelombang laut menampar-nampar di belakang kepala. Kemudian gumpalan awan membisikkan sebuah wahyu yang berbunyi: Semua yang ada di dunia ini memiliki Bahasa-nya sendiri-sendiri..&lt;/div&gt;  &lt;div&gt;&amp;#160;&lt;/div&gt;  &lt;div&gt;&lt;strong&gt;&amp;quot;Semua yang ada di dunia ini memiliki Bahasa-nya sendiri-sendiri...&amp;quot; &lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;  &lt;p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;div align="justify"&gt;Tahan langkah sejenak, buat catatan: 'bahasa' di sini adalah sebutan yang saya pakai untuk sebuah tata komunikasi, bukan pengertiannya secara semantik. Sebuah tata pewicaraan. Dari batu ke samudera, dari monyet sampai manusia; Semua saling berkomunikasi dengan caranya masing-masing, demikian juga dengan perangkat yang melekat dan unsur-unsur di sekitarnya. Semua menjadi bagian dari suatu keterpaduan(kosmos), sebuah usaha untuk menjaga pemahaman dari arus semesta kemungkinan(chaos).&lt;/div&gt;  &lt;div&gt;&amp;#160;&lt;/div&gt;  &lt;div&gt;Dengan demikian agama, sebagai salah satu perangkat utama dari manusia berakal-budi, tentu juga memiliki Bahasa-nya sendiri.&lt;/div&gt;  &lt;div&gt;&amp;#160;&lt;/div&gt;  &lt;div&gt;TUJUAN BERBAHASA&lt;/div&gt;  &lt;div&gt;&amp;#160;&lt;/div&gt;  &lt;div align="justify"&gt;Untuk apa Bahasa ada? Untuk pertukaran pengetahuan dan perasaan. Kita bisa saja sekedar menggeram untuk menunjukkan amarah, orang pun akan tahu bahwa kita sedih dengan menunjukkan muka lembik dan mata berkaca-kaca. Ini adalah bahasa tubuh. &amp;quot;Aku tak suka bila kamu memperlakukanku seperti itu!&amp;quot;, &amp;quot;Selasa kemarin, tante Yanti meninggal...&amp;quot; Ini adalah bahasa Indonesia.&lt;/div&gt;  &lt;div&gt;Kita bisa berdiskusi, bertanya, atau mengeluh dengan menggunakan perangkat bahasa.&lt;/div&gt;  &lt;div&gt;&amp;#160;&lt;/div&gt;  &lt;div align="justify"&gt;Bagaimana bila kita ingin berdiskusi, bertanya, atau mengeluh pada Tuhan? Pertanyaan ini mendekatkan kita pada sebuah konsep bernama: Agama. Jadi bila kita ingin bicara dengan-Nya, kita mesti menggunakan bahasa Agama? Oooh, begitu... ya? Tahan dulu, kita mesti mendekati subjek yang satu ini dengan jiwa dan pikiran yang terbuka.&lt;/div&gt;  &lt;div&gt;&amp;#160;&lt;/div&gt;  &lt;div&gt;&lt;em&gt;&amp;quot;..Aku bicara dengan langit jua, langit tak mendengar..&amp;quot;      &lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&amp;#160;&amp;#160;&amp;#160;&amp;#160;&amp;#160;&amp;#160;&amp;#160;&amp;#160;&amp;#160;&amp;#160;&amp;#160;&amp;#160;&amp;#160;&amp;#160;&amp;#160;&amp;#160;&amp;#160;&amp;#160;&amp;#160;&amp;#160;&amp;#160;&amp;#160;&amp;#160;&amp;#160;&amp;#160;&amp;#160;&amp;#160;&amp;#160;&amp;#160;&amp;#160;&amp;#160;&amp;#160;&amp;#160;&amp;#160;&amp;#160;&amp;#160;&amp;#160;&amp;#160;&amp;#160;&amp;#160;&amp;#160;&amp;#160; --Ariel Peterpan&lt;/div&gt;  &lt;div&gt;&amp;#160;&lt;/div&gt;  &lt;div align="justify"&gt;Tuhan seringkali dianalogikan dengan udara(oleh guru SD), tak terlihat tapi ada. Sering juga disebut dengan akhiran -Nya atau -Mu. Dia juga kadang diringkas menjadi 'Langit'. Semua analogi itu lahir dari rindu-dendam kita atas keberadaan-Nya, pula keinginan untuk berbicara dan membicarakan-Nya. Meski, seingat saya, Dia belum pernah berbicara langsung pada kita para manusia, kecuali pada para Nabi barangkali --itu pun konon melalui perantara malaikatnya.&lt;/div&gt;  &lt;div&gt;&amp;#160;&lt;/div&gt;  &lt;div&gt;&lt;em&gt;&amp;quot;Kamu mau memiliki batu berisi 5 perintah Tuhan?&amp;quot;      &lt;br /&gt;--&amp;quot;Berapa harganya?&amp;quot;       &lt;br /&gt;&amp;quot;Oh, ini gratis.&amp;quot;       &lt;br /&gt;--&amp;quot;Kalau begitu, kami ambil dua...&amp;quot;       &lt;br /&gt;(--Anekdot tentang orang Israel saat mereka ditawari 10 perintah Tuhan)&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;  &lt;div&gt;&amp;#160;&lt;/div&gt;  &lt;div align="justify"&gt;Sutardji Calzoum Bachrie menggunakan analogi batu untuk membicarakan Tuhan. Saya merasa tertarik dengan konsepnya dan memutuskan untuk menggunakan amsal yang sama. Jadi sebelum saya berbicara dengan Tuhan, pertama-tama saya coba berbicara dengan bebatuan. Siapa yang mengerti bahasa batu? Cari tahu dengan hatimu. Batu-batu yang berterbangan saat ada kerusuhan massa, bisa digubah menjadi puisi yang menggugah. Deretan batu-batu akik di jemari dapat menyampaikan status mistis dari sang pemilik. Susunan batu-batuan bahkan bisa digunakan untuk menyampaikan pesan-pesan artistik, geografis, atau sosial.&lt;/div&gt;  &lt;div&gt;&amp;#160;&lt;/div&gt;  &lt;div align="justify"&gt;Maka saya anggap saja batu itu sebagai satu entitas super jenius dan manusia sebagai entitas yang amat bodoh (//...but nonetheless an entity...// --William Blake). Sehingga batu bisa mengerti apa pun bahasa kita, namun kita tak mampu memahami bahasa batu. Kita bisa mengeluh, memaki, dan bertanya pada batu dengan menggunakan bahasa Perancis, Inggris, atau Melayu. Akan tetapi manusia tak dapat menangkap jawaban dari batu karena tak mengerti bahasanya.&lt;/div&gt;  &lt;div&gt;&amp;#160;&lt;/div&gt;  &lt;div align="justify"&gt;Karena bahasa dari entitas super-jenius memang teramat sukar untuk dipahami oleh entitas super-bodoh, maka sang batu lantas menciptakan sebuah tatanan pewicaraan yang lebih mengakar pada daya tangkap dari intuisi dan kepekaan hati. Sebuah bahasa universal yang tercipta untuk mereka yang ingin berbicara dengannya. Anda ingat bahasa Tarzan? Unsur apa yang lebih ditekankan di sana? Terutama adalah kesatuan antara gerak tubuh dan suara-suara simbolis. Gerak diperlukan untuk menekankan maksud dan tujuan; mengangkat tangan sebagai tanda berserah diri, bersujud untuk menunjukkan kepatuhan dan ketakziman, dan semacamnya. Sementara suara-suara simbolis dijadikan sebagai penguat maksud yang ingin disampaikan -mengingat ada keterkaitan emosi daripadanya. (Dalam perkembangannya suara-suara simbolis ini kemudian diatur dan dibakukan agar tidak terjadi kesimpangsiuran dan agar suasananya jadi lebih nyaman bagi kedua-belah pihak yang melakukan pembicaraan.)&lt;/div&gt;  &lt;div&gt;&amp;#160;&lt;/div&gt;  &lt;div align="justify"&gt;Karena udara di sekitar mulai terasa sublim, saya putuskan untuk mengembalikan batu pada status sebelumnya, seperti yang kita lihat sehari-hari. Saat kaki anda tersandung batu di tengah jalan, apa yang anda lakukan agar batu itu tidak berada pada tempat yang sama setelahnya? Memaki-maki si batu dan menitahnya agar pindah ke pinggir jalan tentu takkan mempunyai pengaruh sedikit pun. Batu itu akan tetap bergeming. Agar batu itu bisa berada posisi yang kita inginkan, diperlukan sebuah kesadaran dan gerak tubuh yang sesuai untuk memindahkan batu tersebut ke tempat yang sesuai pula. Satu kesadaran yang dibarengi dengan gerak tubuh yang baik untuk meletakkan sesuatu ke tempat yang baik, hal ini sesuai dengan pengejawantahan dari sifat 'ikhsan'. Karena perilaku tadi bisa menyampaikan maksud kita kepada batu, maka bisa dianggap bahwa kita telah menemukan cara untuk 'berbahasa' dengan batu.&lt;/div&gt;  &lt;div&gt;&amp;#160;&lt;/div&gt;  &lt;div align="justify"&gt;Sekarang kita lupakan batu-batuan. Jika kita sandingkan kata 'agama' dengan kalimat: 'Satu kesadaran yang dibarengi dengan sikap tubuh yang baik untuk memulai suatu percakapan', apa yang terlintas di benak anda sebagai seorang muslim? Mungkin ada banyak hal, akan tetapi bila anda teringat kepada sholat maka itu artinya kita menumpang bahtera metafor yang sama.&lt;/div&gt;  &lt;div&gt;&amp;#160;&lt;/div&gt;  &lt;div align="justify"&gt;Mendekati pelabuhan Makna, saya menemukan bahwa Islam sebagai agama mempunyai sebuah bahasa; sebuah perangkat wicara yang disusun dalam sebuah tatanan niat, gerak tubuh dan pewacanaan ayat-ayat suci serta gramatika tegur-sapa yang telah dibakukan. Sebuah perangkat berbahasa yang diberi nama: 'Sholat'.&lt;/div&gt;  &lt;div&gt;&amp;#160;&lt;/div&gt;  &lt;div align="justify"&gt;Suara Adzan terdengar, bahtera metafor yang saya tumpangi hampir sampai di pelabuhan. Saya pun tersadar, banyak hal yang ingin saya sampaikan kepada Tuhan. Untuk menemui dzat yang Maha Suci, tentulah kita pun mesti mensucikan diri terlebih dulu. Sebagai sebuah penghormatan kepada kawan bicara, saya pun berwudhlu. Dia sang Maha Besar, sebagai kata pembuka saya menyapa-Nya dengan sebutan: &amp;quot;Allahu Akbar&amp;quot;, lalu gramatika protokoler, dilanjutkan dengan pilihan ayat suci yang sesuai dengan suasana hati. Hari ini: Al-Ashr.&lt;/div&gt;  &lt;div&gt;&amp;#160;&lt;/div&gt;  &lt;div&gt;Demi masa, dan Dia yang menguasai perputarannya.&lt;/div&gt;  &lt;div&gt;&amp;#160;&lt;/div&gt;  &lt;p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;hr size="1" /&gt;  &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/37231711-2666699406741881133?l=afrizaprops.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://afrizaprops.blogspot.com/feeds/2666699406741881133/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=37231711&amp;postID=2666699406741881133' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/37231711/posts/default/2666699406741881133'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/37231711/posts/default/2666699406741881133'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://afrizaprops.blogspot.com/2007/11/bahasa-religia.html' title='BAHASA RELIGIA'/><author><name>Indra Afriza</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13607744542905509680</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_U78_aSG2NqI/SukQCBIEZeI/AAAAAAAAAFw/EStaWPknMSg/S220/animme.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-37231711.post-6685538834387270885</id><published>2007-08-26T18:32:00.000-07:00</published><updated>2007-09-08T22:22:24.979-07:00</updated><title type='text'>SOAL MANUSIA BAG.2</title><content type='html'>Essei kali ini, mudah-mudahan, adalah sebuah konklusi. Sambungan dari pewacanaan sebelumnya tentang golongan orang-orang yang diuji.&lt;p&gt;Setelah orang-orang yang diuji dengan kelapangan, golongan berikutnya adalah orang-orang yang diuji dengan kesempitan.&lt;p&gt;Mereka yang kehilangan atau tak berpunya; baik itu harta-benda, keluarga, sanak-saudara dan atau orang-orang yang dicinta. Mereka yang berada dalam proses tersudutkan yang menggiring kepada rasa ketidakpercayaan, pula keraguan, akan hadirnya secercah cahaya kecil bernama Harapan. Akibat terlalu dekat dengan sisi pahit kehidupan, mereka jadi berburuk sangka pada kekuatan dari keyakinan.&lt;br&gt;Gamang. Pasrah. Penyederhanaan pola pikir untuk sekadar bertahan -bagaimana pun caranya.&lt;p&gt;Untuk menyikapi penderitaan dalam rangkulan ukhuwah diperlukan adanya kepedulian kolektif, agar bisa menunjukkan bahwa kita tidak hidup sendirian di dunia yang luas ini; Percaya bahwa alien yang baik itu ada, meski tetap waspada kepada predator yang ganas.&lt;p&gt;Kepedulian Kolektif: satu kepedulian yang hadir dari kebersamaan.&lt;p&gt;Yakinkan, terutama pada diri sendiri lalu orang yang diuji, bahwa ujian yang hadir berbanding lurus dengan kemampuan si penerima. Ingat juga bahwa ada orang lain yang mungkin mendapat ujian lebih berat, dan cari tahu bagaimana cara mereka melewatinya. Tanamkan pula satu konsep keadilan semesta: bahwa semakin berat ujian yang diterima, bila mampu disikapi dengan baik, akan berujung pada bertambahnya kemampuan untuk menghadapi semerta cobaan. Anda tentu ingat pada konsep dasar vaksinasi?&lt;p&gt;Keyakinan memerlukan kesabaran. Bersabarlah dalam menghadapi ujian agar terhindar dari ketersesatan pikiran. Meski sulit dalam keadaan kalut untuk tetap bisa bersabar namun, sekali lagi, ingatlah pada konsep vaksinasi. semakin tinggi takaran uji, semakin kukuh daya tahan diri.&lt;p&gt;Segala sesuatu terjadi tepat pada waktunya dan semuanya tersusun untuk membentuk suatu tujuan. Buah yang matang penuh akan jatuh ke tanah, terkubur, membusuk, untuk memberi jalan pada tunas teruna agar bisa tumbuh mekar melanjutkan siklus kehidupan.&lt;p&gt;Demikianlah akhir dari wacana &amp;#39;Soal Manusia&amp;#39;. Sampai jumpa lagi di halaman blog yang sama, dan... Merdeka!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/37231711-6685538834387270885?l=afrizaprops.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://afrizaprops.blogspot.com/feeds/6685538834387270885/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=37231711&amp;postID=6685538834387270885' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/37231711/posts/default/6685538834387270885'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/37231711/posts/default/6685538834387270885'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://afrizaprops.blogspot.com/2007/08/soal-manusia-bag2.html' title='SOAL MANUSIA BAG.2'/><author><name>Indra Afriza</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13607744542905509680</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_U78_aSG2NqI/SukQCBIEZeI/AAAAAAAAAFw/EStaWPknMSg/S220/animme.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-37231711.post-116977457821901594</id><published>2007-01-25T17:22:00.000-08:00</published><updated>2007-09-08T22:33:20.103-07:00</updated><title type='text'>SOAL MANUSIA</title><content type='html'>Manusia, dalam perjalanan hidupnya, melewati tahap-tahap penyesuaian dan percobaan, serangkaian pengujian, sampai akhirnya dipanggil menuju keabadian; untuk ditimbang segala amal perbuatannya pada neraca Sang Maha Adil.&lt;p&gt;Setiap manusia menghadapi ujiannya masing-masing dengan bentuk dan penerimaan yang berbeda-beda pula. namun ada dampak bawah sadar yang perlu dicermati dalam proses penerimaannya.&lt;/p&gt;pada kesempatan ini, saya akan mencoba mewacanakan dua golongan manusia dan ujian yang diterima oleh mereka.&lt;/p&gt;Golongan yang pertama adalah manusia yang diuji dengan kelapangan; mereka ini rentan sekali dihinggapi oleh resiko ketumpulan empati dan kedangkalan sudut pandang.&lt;br /&gt;Mengapa? Salah satu penyebabnya adalah karena mereka yang hidup dalam kelapangan untuk memilih --ceteris paribus-- tidak terlatih untuk memahami kondisi dari mereka yang hidup dalam situasi di mana pilihan jadi begitu terbatas hingga nyaris tiada.&lt;p&gt;Bisa diperkatakan: "Adalah sulit bagi mereka dengan perut yang terjamin kekenyangannya untuk memahami derita orang-orang lapar." Ini bukan berarti orang-orang berperut kenyang tidak boleh atau tidak bisa merasa peduli. kecenderungan yang ada di sini adalah belum terciptanya pemahaman di mana pengalaman difungsikan sebagai pendidik. Inilah yang saya maksud sebagai ketumpulan empati, saat kemampuan untuk membelah permasalahan yang ada belum terasah oleh keterkaitan rasa pada realita yang berjalan.&lt;p&gt;maka perlu upaya untuk memahami Realita sebagaimana adanya, lalu berusaha dengan segenap kemampuan dalam diri untuk memperbaiki kekurangan yang ada. &lt;br /&gt;Jika seseorang yang telah mendapat kelapangan merasa tak mampu untuk melakukan perbaikan pada lingkungannya dikarenakan keterbatasan sarana dan prasarana; maka semestinya disadari: Jika dia saja begitu cepat terhalangi oleh keterbatasan, tentu lebih cepat lagi keterbatasan itu mengurung orang-orang yang nasibnya jauh lebih kurang beruntung dibanding dirinya...&lt;p&gt;&amp;lt;BERSAMBUNG&amp;gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/37231711-116977457821901594?l=afrizaprops.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://afrizaprops.blogspot.com/feeds/116977457821901594/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=37231711&amp;postID=116977457821901594' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/37231711/posts/default/116977457821901594'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/37231711/posts/default/116977457821901594'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://afrizaprops.blogspot.com/2007/01/soal-manusia.html' title='SOAL MANUSIA'/><author><name>Indra Afriza</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13607744542905509680</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_U78_aSG2NqI/SukQCBIEZeI/AAAAAAAAAFw/EStaWPknMSg/S220/animme.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
