Tuesday, January 13, 2009

Semantika Filosofia

Kali ini saya ingin mengajak anda untuk menganalisa sebuah kalimat secara psikologis dan juga filosofi semantika. Secara psikologis saya akan menyelami kalimat tersebut melalui tataran emosi dari pengutaranya, sedang secara semantik saya akan melihat susunan kata dalam kalimat tersebut dan mengapa dia bisa tersusun demikian. Untuk membatasi subyek penelitian, maka perlu diberi kejelasan mengenai si pengutara dan subyeknya. Untuk contoh kasus, si pengutara akan saya beri jenis kelamin perempuan, sementara subyeknya adalah seorang lelaki. Tujuan akhir dari analisa ini adalah membuat sebuah kerangka untuk penggubahan puisi berdasarkan kalimat dasar tersebut.

Kalimat yang akan dibahas adalah: “Dia itu masa lalu yang terindah… tapi juga menyakitkan…”

1. Telaah Psikologis vis a vis Semantik

Bila kita lihat dari sisi emosional, maka ada dua kata yang mempunyai daya penegasan emosi pada kalimat tersebut. Kata pertama adalah ‘terindah’, dan kata ke-dua adalah ‘menyakitkan’.

Masa Lalu. Kadar emosi yang tertangkap dalam pengutaraan dua kata ini adalah si pengutara ingin sekali melupakan subyek yang dia bicarakan, sebegitu inginnya maka dia perlu menegaskan pada dirinya, juga pada orang lain, bahwa subyek yang dia bicarakan ini adalah sebuah masa lalu. Penegasan ini mengandung kemarahan yang masif, apalagi jika diucapkan sambil tertawa tragis: usaha penghiburan diri yang gagal.

Secara semantik, kalimat awal ini bisa digantikan dengan beberapa kalimat alternatif seperti: “Aku ingin melupakanmu!” artinya: Aku ingin lupa tapi belum. Bisa juga dengan kalimat: “Dia sudah berlalu, pergi!” artinya: Menanyakan pada diri apakah Dia sudah berlalu, di mana jawabannya adalah: belum, sehingga perlu ada kalimat pengusir di ujung kalimat.

Terindah. Si pengutara kalimat jelas terkait erat sekali dengan subyek yang dia bicarakan. Ada unsur kekaguman yang berlebih di sini. Perempuan itu menganggap si lelaki sebagai sesuatu yang ‘terindah’. Lelaki ini, dalam penangkapan emosi cinta, memiliki tampilan fisik yang begitu memukau baginya. Ingat, bahwa dalam cinta semuanya tampak indah.

Secara semantik, kata ‘terindah’ setelah pengucapan ‘masa lalu’ dapat diartikan sebagai penegasan akan keindahan yang belum jua terlupakan. Ada yang membekas dalam diri si perempuan, sehingga si subyek ini tetap saja indah nyaris tanpa peduli dengan apa pun yang telah dia perbuat. Sehingga meski lelaki itu telah berlalu, keindahannya masih melekat dalam angan-angannya.

Itulah mengapa, secara semantik dan psikologis, kalimat ‘tapi juga menyakitkan…” ditempatkan si perempuan di ujung kalimatnya dan bukan di depan. Karena dia sebenarnya belum cukup matang untuk melepaskan lelaki tersebut secara apa adanya, yaitu: sebuah kenangan. Dia belum menyiapkan sebuah album emosi dalam dirinya untuk meletakkan kenangan akan lelaki tersebut secara wajar.

Ada ketidakjujuran dalam cara dia menangani perasaannya. Dia belum jujur mengenai hilangnya lelaki tersebut dalam kehidupannya, dia masih mengharapkan dan bertanya-tanya: apakah lelaki itu telah benar-benar berlalu. Ah, mungkin dia sedang bersembunyi di tekongan?

Perempuan itu juga tidak jujur bahwa lelaki itu telah menyakitinya. Dia lebih mendahulukan keindahan yang termaktub dalam perasaannya yang terburamkan oleh rasa kagum. Meski di penghujung hari, rasa sakit itu tetap menjepit diri.

Beranjak dari kalimat pertama. Saya akan mencoba membuat sebuah anti tesis dalam bentuk kalimat pula.

Anggaplah waktu berlalu semenjak si perempuan mengatakan kalimat yang pertama, dia kini sudah lebih matang untuk menerima dan menyikapi berbagai cita dari cinta. Lalu seseorang yang sedang dekat dengannya menanyakan tentang siapa lelaki tersebut, dan dia pun menjawab dengan tenang:

“Dia adalah masa lalu yang menyakitkan, dan sebuah pelajaran yang terindah…”

Coba sekarang anda analisa, bagaimana kondisi perempuan itu saat dia mengucapkannya?