Peribahasa 'Lain Padang, Lain Ilalang' rasanya masih bisa diterapkan sampai saat ini –dasar orang Sumatera, bawaannya kalo ga pantun ya peribahasa, hehee. Kita sedapat mungkin menyesuaikan diri dengan lingkungan di mana kita berada. Sebagai seorang penulis daring yang sudah asem-garem sejak jaman SMA dulu, saya telah mengirimkan tulisan saya ke berbagai komunitas kepenulisan di jagad maya. Dari yang 'normal' sahaja semacam BUMI MANUSIA, EMULE Poetry, 8HoP..., sampai pada kumpulan yang 'kurang sesendok' seperti CERITA_S*RU, BIRU****, DESAH****... (semuanya sudah lenyap karena ga kuat membayar hosting). Berbagai jenis, tema, dan bentuk tulisan asyik bergelunturan. Pada setiap tempat, saya selalu berusaha menyesuaikan jenis tulisan sesuai komunitas yang saya kunjungi. Sikap itu pada awalnya bukan sebab saya memang bijaksana dalam memilah; namun kerna sebelumnya saya sudah sempat dimaki, diberangus, dan dimasukkan daftar hitam admin dari Papua sampai New Guinea (jiaah? Deket dong?). Dari semua itulah, saya belajar dan mendapat pengalaman.
Pelajaran pertama: Semua tak Sama ('ngutip judul lagu PADI). Beberapa tulisan saya di BIRU**** mengundang pujian dan bahkan mendapat rating Bintang 5, kerna tidak sekadar 'saru' tapi juga punya alur cerita yang menarik (itu kata yang baca lhoooo...) Namun bila tulisan tersebut saya muat di tempat lain seperti Komunitas Cahya-Kalbu, misalnya, tentu reaksi yang didapat akan jauh berbeda: boro-boro dapat rating Bintang 5, yang ada malah overdosis Bintang 7 (obat pusing) karena sakit kepala dihujat beramai-ramai oleh segambreng anggota komunitas yang bersangkutan.
Pelajaran ke-dua: Semua Tak Sama (hmm... berasa de ja vu ga sih?) Untuk pihak moderator, sebaiknya jangan terlalu sadis saat memberi teguran. Tidak semua penulis punya muka tembok seperti saya soalnya. Bahkan ada teman saya yang sampai bersumpah tak mau menulis lagi setelah karyanya dihujat habis-habisan oleh seorang moderator. Ingat: tidak semua yang 'jelek' itu diawali dengan niat buruk. Berilah teguran dengan niat dan sikap membimbing. Memberi petunjuk arah lebih dihargai tinimbang menutup jalan. Demikianlah kiranya.
Akhirul kalam: lain padang, lain ilalang.. lain medan, lain surabaya.. lain jogja, lain cibinong. Sampai jumpa lagi di Pontianak. Merdeka!
