Friday, June 17, 2011

Rumahku Istanaku

Jadi begini... Sesederhana apapun, kamu tentu cinta dan bangga dengan rumah yang kamu buat. Di sana kamu tumbuh dan kembangkan semua impianmu. Di sana pula semua yang kamu cintai berada. Nah, jika suatu hari kamu melihat seorang yang tampak menyenangkan di matamu, lalu kamu terkesan dan mengajak orang itu singgah. Apa yang kamu rasakan bila orang tersebut menyambit ajakanmu dengan jawaban seperti ini:
"Oh, saya memang menyenangkan dan cukup berkilau. Kilau saya bisa kamu lihat di rumah Anu, rumah Ono, dan beberapa rumah lainnya. Karena itu saya rasa tak perlu lagi memajang kilau saya ini di rumahmu. (Lagipula rumahmu itu gak begitu penting deh untuk dikunjungi). Anyway, terimakasih lho atas perhatiannya. Kamu bener kok, aku memang menyenangkan, sudah terakui pula..."
Terasa senep bukan? Itulah sebabnya orang seperti itu disebut sebagai Snob, karena menimbulkan rasa senep-oblogodohh.
Lain bila orang itu menjawab dengan: "Oh, terima kasih atas perhatiannya. Nanti deh, kalo sempat, saya berkunjung ke rumahmu ya?" Bahkan bila dia tidak kunjung sempat pun rasanya kita akan cenderung memaklumi.
Kesimpulannya: hargai rumah orang lain seperti kamu menghargai rumahmu sendiri.
Orang snob tanpa sadar akan terputus dari tali silaturahmi.
Selesai.