Saturday, September 05, 2009

Once More: Life as an Ocean of Possibilities

Again, I declare my creed: Life is an ocean of possibilities. The way it twist in its unpredictable turns… wow… what else can i do but to be amaze and eulogize of anything in it?

I should say that there’s no absolute guarantee in life, yet to behold that as the truth would simply takes us to the spot of everlasting anguish. The same spot that hit Kierkegaard right on the back of his head. So everyone trying to buy insurance, some even subscribe for membership; either by will or by descendant traits. Just to feel safe and turning away from the eternal anguish? Then it is the major dullness for all subscribers. To run or turn away and not facing the unshaken truth. How then? ah, be patient dear Watson, for nothing so elementary when you open your self for understanding the Grand Concept.

In every good religion there’s always a chance to giving to chances. That’s why there’s prayers: to open the doors of hope in any condition, even in the most pathetic situation. By embracing that, folks with faith are trying their best to make peace with the anguish. Not to evade that is, but more to accept the inalienable truth that chances are not ours to rule. Hope, in this state of apprehension, is something that is always There. The only thing people can expect is to reach for it, by the sanest means possible and eligible to the rules of faith that’s been taken as guidance.

jamais dite jamais. With the believe that all these surroundings are temporal, religion guide the believers to suspend the rightness of Right, simply because it won’t last. The wisest thing to do, for the time being, is to put the Right as a street mark or milestone. To show us the way that’s been used in process of approaching the Promised Land.

In totem pro parte: can’t hate anything for sure, because something I hate could be what I am in the future, and vice versa.

Just embrace everything with a sense of forgiveness, first to the self then to the situation. Have some coffee every evening with something that still in the vague. Breath the air, and release all self detention.

Get to know, to eulogize, and to accept… for all these are all mere possibilities.

Tuesday, April 07, 2009

A Tribute to Jimmo

 

Para penonton mulai berteriak-teriak ramai…

“Ayooo… menulislah! Tulis lagi.. tuliskanlahh…!”

--Tapi aku belum punya inspirasi..?

“Perduli kambing dengan terasi! Ayoo.. tuliss! tuliskan apa saja yang bisa kau tuliss..! Kami menungguuuu..!”

Lalu mereka mulai melemparkan berkuntum bunga poppy, berlinting-linting ganja, stik-stik opiat, kutang, kancut, spiral, pil kb, juga siraman Old Turkey Whiskey dalam kantung plastik tahan santan.. semuanya mereka lemparkan ke atas panggung tempatku berdiri dalam nyanyi sunyi.

Aku mengambil selinting ganja pemberian mereka dan mengisapnya dengan gaya Sid Vicious, lalu mengambil 1 stik opiat dan memasukkannya ke dalam rongga hidung, tarik habis, meluncur ke tenggorokan, singgah ke urat syaraf di kepala, lalu ke paru-paru, lambung.. takdir mati muda menunggu..

“Ayoo.. menulislah! Kami menungguuuuu-muuuuu…!”

Aku mengalah dan mulai bersenandung…

…Riders on the storm, riders on the storm
into this house we’re born,
into this world we’re thrown;
Like a dog without a bone,
Actors all alone;
Riders on the storm…

Para penonton semakin ramai menjerit-jerit…

“Gilaaa..! Dahsyaaaatt..! Kau memang manusia setengah dewa..!”

--Tapi itu bukan kata-kataku, itu adalah kata-kata warisan mendiang Jim Morrison..

“Perduli bebek dengan parkinson..! Kami mencintaimu, karena kau bisa kami sentuh..!”

Dari sudut lain, sekumpulan wanita berambut api berteriak histeris: “Mari berkopulasi..! Mareeeee…! Aku ingin punya anak darimu..!”

Untuk menenangkan mereka, aku kembali bersenandung…

…Like a dog without a bone,
Actors all alone..

Suasana semakin tak terkendali, semua orang merangsek ke atas panggung, mereka semua ingin sebagian dari diriku. Seperti sekumpulan anak-anak yang berebut layangan putus.

Aku ditelanjangi, disetubuhi beramai-ramai… lelaki dan perempuan.

Semuanya menjadi gelap…

Segera kuputuskan untuk menulis sebuah pesan untuk semua teman dari masa lalu:

“Cuy, percayalah.. jalani aja hidup rutin kalian.. pergi pagi pulang petang.. tiap hari mikirin hutang… itu semua lebih aman dan tenang, ketimbang harus jadi manusia setengah dewa.. TTD: Indra Afriza.”

Monday, April 06, 2009

Hanya Ada Satu Cinta

Mendadak pagi ini saya ingin mengawali hari dengan sebuah penegasan: Hanya ada satu hati untuk Cinta. Agak jayus dan basi memang, tapi penting untuk disadari dan perlu. Untuk menguatkan aksiom ini maka saya akan mengemukakan sebuah premis pendukung, serta menjalinkan sebuah thesa atas dasaran premis tersebut.

Aksiom ini dilatarbelakangi oleh serangkai peristiwa baik yang bersifat pribadi maupun yang berskala global. Untuk pemandangan pribadi, saya terpancing oleh perkataan pacar saya di suatu sore yang indah mengenai kemungkinan seseorang untuk ‘Make Love without Love’, apakah bisa? begitu pertanyaannya kepada saya. Untuk pemandangan yang lebih luas, saya tergerak untuk mengomentari beberapa pasangan selebrita yang memutuskan untuk berpoligami.

Kedua latar belakang yang saya sebutkan di atas, pada perkembangannya mengundang saya untuk menyelidiki ke dalam hati, pribadi dan juga sekitar, mengenai sebuah perasaan super hebat bernama Cinta.

Pertanyaan sang Pacar membuat saya terpaksa memilah manusia secara perbedaan jenis kelamin: Perempuan dan Lelaki. Konon kabarnya perempuan berpikir dengan hati sementara lelaki cenderung menggunakan kepala( entah itu kepala atas atau yang bawah), ada juga pendapat yang mengatakan bahwa perempuan memberi seks untuk mendapatkan cinta sementara lelaki memberi cinta untuk mendapatkan seks. Menurut literatur yang saya baca( studi pustaka saya paling akhir mengenai masalah ini adalah sebuah artikel di majalah Playboy –artikel yang cukup serius, meski digunakan di sana untuk mengiklankan minyak aromatik pengundang syahwat), bahwa yang benar-benar bisa membuka pintu masuk ke dalam jalan sanggama seorang perempuan, dalam kondisi sadar dan normal, hanyalah Cinta. Maka untuk melakukan proses penyatuan tubuh bersama seorang lelaki, terlebih dulu mereka harus mencintai pasangannya tersebut.

Bagaimana dengan para lelaki? Ah, coba ditanyakan pada diri sendiri, atau melihat acara penggerebekan tempat mesum di televisi. Lelaki tidak perlu jatuh cinta untuk melakukan persenggamaan, mereka hanya perlu keinginan untuk melaksanakan sebuah hajat yang tak tertahan. Ingin, cari, genjot, bayar, dan lalu pulang. Dari sini bisa dilihat bahwa lelaki bisa melakukan apa yang disebut kelompok Air Supply dengan istilah ‘Making Love out of Nothing at all’, atau menurut istilah pacarku: MaLWiL. Meski rasanya istilah yang tepat untuk kondisi ini bukanlah ‘Make Love Without Love’, akan tetapi  lebih kepada ‘Persetubuhan tanpa Cinta’; istilah ini juga menegaskan bahwa untuk Make Love (bercinta) tentu tetap saja kita membutuhkan kehadiran Cinta untuk mengesahkan dan mengindahkan prosesinya.

Lalu apakah lelaki tidak bisa merasakan dan atau membutuhkan Cinta? Tentu saja bisa! Lelaki juga membutuhkan Cinta. Persetubuhan dengan seorang pelacur tentu saja beda rasanya dengan penyatuan tubuh antar sepasang manusia yang saling mencinta. Ada proses saling menjaga, saling memperhatikan, hingga tidak memaksakan, hingga bisa saling mabuk tanpa menjadi liar tanpa aturan, ada senyum tersipu, ada rasa malu-malu yang menggemaskan, rona merah jambu, serta keabadian dalam sebuah pelukan sederhana; semua proses ini berlaku sama, baik pada lelaki maupun perempuan. Kita perlu memisahkan pengertian antara Cinta dan Syahwat.

Cinta adalah sebuah mahakarya adiluhung dari sekeping entitas bernama Hati pemberian Illahi. Dia begitu indah, karena bisa membuat yang merasakannya serasa berada di taman 1000 mawar; pula begitu kuat, karena bisa membuat pemiliknya dihantam kegelisahan tingkat tinggi –tak bisa tidur, tak enak makan, serta diganjar rindu-dendam yang selalu mempertanyakan keberadaan, baik itu keberadaan sang kekasih maupun keberadaan dirinya di hati sang kekasih; begitu cerdas, semua masalah seolah pergi bergegas –saat cinta dalam genggaman, tak ada masalah yang tak bisa diselesaikan. Begitu privat. Misterius. Rumit, menolak dari segala kemungkinan penyimpulan, dan peringkasan –oleh karena itu saya tak mau membahas Cinta terlalu dalam, karena saya tak akan mampu untuk meringkasnya dalam sebuah kesimpulan.

Menghadapi entitas sehebat itu, manusia datang dengan segala keterbatasan pemikiran dan pemahamannya. Di sinilah letak permasalahan yang utama: Manusia kurang persiapan untuk menyambut Cinta, namun teramat kebelet untuk bisa memilikinya.

Aksiom 1: Manusia selalu dibayangi oleh keinginan untuk memiliki Cinta.

Tinjauan berikut adalah soal Poligami. Mengapa ketidaksetiaan terjadi? Mari melihat ke dalam diri. Mengapa seorang Ustadz kondang yang telah memiliki seorang istri yang cantik nan sholihah( sebutlah namanya itu: Teteh), mesti kepikiran untuk menikah lagi? Jangan tanya itu kepada Teteh. Saya tidak mau berpanjang opini soal benar-salah di sini, kerna saya hanya membutuhkan perangkat wacana yang satu ini untuk menuju ke aksiom berikutnya.

Seorang Ustadz adalah juga seorang manusia, biasa pula. Tak ada yang istimewa secara berlebih, biasa saja. Semua hukum dan tatanan sebab-akibat pada diri manusia berlaku sama pada mereka. Mereka juga, merujuk pada Aksiom 1, selalu dibayangi keinginan untuk memiliki Cinta. Pada titik inilah Teteh harus mulai waspada dan belajar menganalisa kondisi dengan stabilitas yang jernih; dia mesti bisa menerima bahwa semua alasan mulia yang dikemukakan oleh si Ustadz, suaminya itu, hanyalah sebuah pembenaran untuk menenangkan hati. Mengikhlaskan diri terkadang hanya sebuah pelarian dari sikap ‘tak bisa apa-apa lagi’. Jadi, kemungkinan apakah yang bisa digali dari kondisi ini?

Si Ustadz juga sedang belajar mengenai Cinta dengan segala keterbatasannya. Lalu dia bertemu dengan seseorang yang dia anggap sesuai dengan hasil pembelajarannya tersebut. Ternyata gayung bersambut, dan selanjutnya adalah… sejarah. Nah, setelah ini, Teteh seharusnya bisa menjawab pertanyaan ini: Kepada siapakah suaminya melabuhkan sebuah rasa yang, menurut pemahaman dan tingkat wawasan suaminya pada saat itu, dianggapnya sebagai Cinta?

Aksiom 2: Cinta itu berbeda dari perasaan belas-kasih atau interaksi kepedulian sosial; meski dia bisa tumbuh dari sana, tetap saja: Tidak sama.

Melanjut pada kasus poligami berikutnya. Ada seorang pengusaha rumah makan sukses yang mempunyai 10 orang istri. Bila ditanya apakah dia mencintai semua istrinya itu, maka dia akan menggelunturkan jawaban bersifat retorika sebelum akhirnya terpaksa untuk mengatakan: YA. Apakah anda akan mempercayai jawabannya? Jangan tanya itu pada istri-istrinya.

Mari menggunakan Aksiom 1 untuk menelusuri jejak roman si pengusaha. Dia adalah manusia, dan dia selalu dibayangi keinginan untuk memiliki cinta. Gabungkan dengan Aksiom 2; di mana dia, sebagai pengusaha, selalu berinteraksi dengan berbagai kalangan( wanita ) dalam kehidupan sosialnya, lalu tumbuh perasaan belas-kasih yang, pada 10 kasus, gayungnya tersambut –mungkin untuk kasus-kasus yang lain dia mendapat sambitan gayung.

Jika pada kasus Ustadz dan Teteh, jawaban mengenai cintanya masih lebih mudah untuk ditelusuri. Maka untuk kasus si pengusaha, jawabannya sedikit lebih rumit, tapi sekaligus bisa dipintas dengan mudah. Maksudnya? Begini…

Si Ustadz dan si Pengusaha sebenarnya sama saja. Sama-sama lelaki dan sama-sama manusia. Si Pengusaha sebenarnya adalah sebuah perulangan dari Si Ustadz sebanyak 10 kali. Untuk memintas pengamatan kita atas cintanya si Pengusaha, kita bisa memakai hukum Gossen1: “Pemuasan atas sebuah obyek, lama-kelamaan akan mencapai titik jenuh.. sampai akhirnya kepuasan itu akan hilang”

Dari sini bisa kita lihat, bahwa pada awalnya si Pengusaha sedang menelusuri pemahaman tentang Cinta. Dan karena dia tidak kunjung puas atas persepsi yang dia peroleh dalam dirinya, maka dia terus mencari jawaban demi jawaban. Sebenarnya sikap begini adalah sikap seorang Sarjana jaman pendekar Tiongkok, belajar terus menerus tanpa pernah puas. Kesalahan terjadi ketika dia bermain-main dengan Rasa, sebuah konsep yang selalu subyektif, sehingga dia harus mengenal titik henti untuk bisa terwujud secara konkrit dalam diri individu. “Aku bilang Teh ini Manis, titik!” demikianlah sikap yang sebaiknya diambil si Pengusaha.

Namun terbawa dalam keberhasilan penguasaan dan penaklukan, si Pengusaha menolak untuk berhenti memuaskan diri. Sehingga pada akhirnya, kepuasan itu justru hilang. Berganti dengan perburuan Status dan pertunjukkan panggung sandiwara. Pada titik sebenarnya dia telah kehilangan sebuah persepsi tentang Cinta dalam dirinya. Bila dia mengatakan bahwa dia mencintai semua istrinya, atas dasar apa dia meletakkan perkataannya itu? Dia akan berbenturan pada banyak sisi kepribadian, sehingga pada akhirnya akan ada sebuah pelepasan tanggung-jawab yang disalah artikan sebagai sikap ikhlas.

Siapa di antara istrinya adalah wanita yang dia cintai? Atas dasar apa dia bisa menentukannya? Dia terlalu banyak mencocok-cocokkan apa yang dia rasa sebagai Cinta dan meminangnya, sehingga dia tidak tahu lagi sebenarnya cintanya itu berlabuh di mana… katakanlah semua istrinya itu adalah kepingan-kepingan dari apa yang dia sebut sebagai Cinta. Lalu bagaimana apabila nanti ada seorang wanita yang menyimpan semua kepingan itu menjadi satu bagian utuh dalam dirinya. Bila si pengusaha meminang pula wanita itu, mungkin bisa dikatakan bahwa dia telah menemukan cinta sejatinya. Tapi bagaimana status dari 10 istrinya yang lain? Hanya menjadi serpihan? Bahkan jika mereka dipertahankan pun, mereka tetap saja bukan perwujudan Cinta dari si pengusaha. Mereka cuma jadi kepingan buku teori tentang cinta, yang disimpan dalam lemari kayu jati di kamar si Pengusaha.

Mau ambil jalan damai? Silahkan. Wacana penawar gelisah bisa diminum di warung jamu terdekat. Tapi tetap tak bisa dipungkiri bahwa Cinta cuma ada satu.

PREMIS: Hanya Bisa Ada Satu Cinta Spesifik Di Hati

Maka anda bisa saja bergumul penuh nafsu dengan seseorang, sementara anda memikirkan seseorang yang lain pada saat yang sama. Dia bisa saja cinta monyet dari jaman Sekolah Dasar, Dia bisa saja seseorang yang baru anda kenal dari situs jejaring sosial, Dia bisa saja seseorang yang baru tadi anda temui di jalan tapi mengucap kalimat yang anda kenang sepanjang jaman. Siapa saja bisa jatuh Cinta, kapan saja, di mana saja. Tapi waspadalah, bersiaplah untuk gelisah, kerna Cinta hanya ada satu dan kehadirannya bisa menjungkirbalikkan semua yang anda yakini sejak awal.

THESIS yang tercipta dari Premis ini adalah: Syukuri Cinta di depan matamu, dan jalani keberadaannya dengan segenap rasa bahagia, berikan semua yang terbaik untuk Cinta, apa pun itu. Karena dia hanya satu, tak terbagi, meski mungkin hanya bisa tersimpan dalam hati; Berikan yang terindah.. hingga bila tiba saat untuk berpisah, hanya ada kenangan yang manis mengulas paras penuh ketulusan.

Seperti seulas senyum penuh syukur diiringi doa tulus untuk kebaikan sang kekasih, di mana pun dia berada.

Selamat Bercinta!!

Tuesday, January 13, 2009

Semantika Filosofia

Kali ini saya ingin mengajak anda untuk menganalisa sebuah kalimat secara psikologis dan juga filosofi semantika. Secara psikologis saya akan menyelami kalimat tersebut melalui tataran emosi dari pengutaranya, sedang secara semantik saya akan melihat susunan kata dalam kalimat tersebut dan mengapa dia bisa tersusun demikian. Untuk membatasi subyek penelitian, maka perlu diberi kejelasan mengenai si pengutara dan subyeknya. Untuk contoh kasus, si pengutara akan saya beri jenis kelamin perempuan, sementara subyeknya adalah seorang lelaki. Tujuan akhir dari analisa ini adalah membuat sebuah kerangka untuk penggubahan puisi berdasarkan kalimat dasar tersebut.

Kalimat yang akan dibahas adalah: “Dia itu masa lalu yang terindah… tapi juga menyakitkan…”

1. Telaah Psikologis vis a vis Semantik

Bila kita lihat dari sisi emosional, maka ada dua kata yang mempunyai daya penegasan emosi pada kalimat tersebut. Kata pertama adalah ‘terindah’, dan kata ke-dua adalah ‘menyakitkan’.

Masa Lalu. Kadar emosi yang tertangkap dalam pengutaraan dua kata ini adalah si pengutara ingin sekali melupakan subyek yang dia bicarakan, sebegitu inginnya maka dia perlu menegaskan pada dirinya, juga pada orang lain, bahwa subyek yang dia bicarakan ini adalah sebuah masa lalu. Penegasan ini mengandung kemarahan yang masif, apalagi jika diucapkan sambil tertawa tragis: usaha penghiburan diri yang gagal.

Secara semantik, kalimat awal ini bisa digantikan dengan beberapa kalimat alternatif seperti: “Aku ingin melupakanmu!” artinya: Aku ingin lupa tapi belum. Bisa juga dengan kalimat: “Dia sudah berlalu, pergi!” artinya: Menanyakan pada diri apakah Dia sudah berlalu, di mana jawabannya adalah: belum, sehingga perlu ada kalimat pengusir di ujung kalimat.

Terindah. Si pengutara kalimat jelas terkait erat sekali dengan subyek yang dia bicarakan. Ada unsur kekaguman yang berlebih di sini. Perempuan itu menganggap si lelaki sebagai sesuatu yang ‘terindah’. Lelaki ini, dalam penangkapan emosi cinta, memiliki tampilan fisik yang begitu memukau baginya. Ingat, bahwa dalam cinta semuanya tampak indah.

Secara semantik, kata ‘terindah’ setelah pengucapan ‘masa lalu’ dapat diartikan sebagai penegasan akan keindahan yang belum jua terlupakan. Ada yang membekas dalam diri si perempuan, sehingga si subyek ini tetap saja indah nyaris tanpa peduli dengan apa pun yang telah dia perbuat. Sehingga meski lelaki itu telah berlalu, keindahannya masih melekat dalam angan-angannya.

Itulah mengapa, secara semantik dan psikologis, kalimat ‘tapi juga menyakitkan…” ditempatkan si perempuan di ujung kalimatnya dan bukan di depan. Karena dia sebenarnya belum cukup matang untuk melepaskan lelaki tersebut secara apa adanya, yaitu: sebuah kenangan. Dia belum menyiapkan sebuah album emosi dalam dirinya untuk meletakkan kenangan akan lelaki tersebut secara wajar.

Ada ketidakjujuran dalam cara dia menangani perasaannya. Dia belum jujur mengenai hilangnya lelaki tersebut dalam kehidupannya, dia masih mengharapkan dan bertanya-tanya: apakah lelaki itu telah benar-benar berlalu. Ah, mungkin dia sedang bersembunyi di tekongan?

Perempuan itu juga tidak jujur bahwa lelaki itu telah menyakitinya. Dia lebih mendahulukan keindahan yang termaktub dalam perasaannya yang terburamkan oleh rasa kagum. Meski di penghujung hari, rasa sakit itu tetap menjepit diri.

Beranjak dari kalimat pertama. Saya akan mencoba membuat sebuah anti tesis dalam bentuk kalimat pula.

Anggaplah waktu berlalu semenjak si perempuan mengatakan kalimat yang pertama, dia kini sudah lebih matang untuk menerima dan menyikapi berbagai cita dari cinta. Lalu seseorang yang sedang dekat dengannya menanyakan tentang siapa lelaki tersebut, dan dia pun menjawab dengan tenang:

“Dia adalah masa lalu yang menyakitkan, dan sebuah pelajaran yang terindah…”

Coba sekarang anda analisa, bagaimana kondisi perempuan itu saat dia mengucapkannya?