Mendadak pagi ini saya ingin mengawali hari dengan sebuah penegasan: Hanya ada satu hati untuk Cinta. Agak jayus dan basi memang, tapi penting untuk disadari dan perlu. Untuk menguatkan aksiom ini maka saya akan mengemukakan sebuah premis pendukung, serta menjalinkan sebuah thesa atas dasaran premis tersebut.
Aksiom ini dilatarbelakangi oleh serangkai peristiwa baik yang bersifat pribadi maupun yang berskala global. Untuk pemandangan pribadi, saya terpancing oleh perkataan pacar saya di suatu sore yang indah mengenai kemungkinan seseorang untuk ‘Make Love without Love’, apakah bisa? begitu pertanyaannya kepada saya. Untuk pemandangan yang lebih luas, saya tergerak untuk mengomentari beberapa pasangan selebrita yang memutuskan untuk berpoligami.
Kedua latar belakang yang saya sebutkan di atas, pada perkembangannya mengundang saya untuk menyelidiki ke dalam hati, pribadi dan juga sekitar, mengenai sebuah perasaan super hebat bernama Cinta.
Pertanyaan sang Pacar membuat saya terpaksa memilah manusia secara perbedaan jenis kelamin: Perempuan dan Lelaki. Konon kabarnya perempuan berpikir dengan hati sementara lelaki cenderung menggunakan kepala( entah itu kepala atas atau yang bawah), ada juga pendapat yang mengatakan bahwa perempuan memberi seks untuk mendapatkan cinta sementara lelaki memberi cinta untuk mendapatkan seks. Menurut literatur yang saya baca( studi pustaka saya paling akhir mengenai masalah ini adalah sebuah artikel di majalah Playboy –artikel yang cukup serius, meski digunakan di sana untuk mengiklankan minyak aromatik pengundang syahwat), bahwa yang benar-benar bisa membuka pintu masuk ke dalam jalan sanggama seorang perempuan, dalam kondisi sadar dan normal, hanyalah Cinta. Maka untuk melakukan proses penyatuan tubuh bersama seorang lelaki, terlebih dulu mereka harus mencintai pasangannya tersebut.
Bagaimana dengan para lelaki? Ah, coba ditanyakan pada diri sendiri, atau melihat acara penggerebekan tempat mesum di televisi. Lelaki tidak perlu jatuh cinta untuk melakukan persenggamaan, mereka hanya perlu keinginan untuk melaksanakan sebuah hajat yang tak tertahan. Ingin, cari, genjot, bayar, dan lalu pulang. Dari sini bisa dilihat bahwa lelaki bisa melakukan apa yang disebut kelompok Air Supply dengan istilah ‘Making Love out of Nothing at all’, atau menurut istilah pacarku: MaLWiL. Meski rasanya istilah yang tepat untuk kondisi ini bukanlah ‘Make Love Without Love’, akan tetapi lebih kepada ‘Persetubuhan tanpa Cinta’; istilah ini juga menegaskan bahwa untuk Make Love (bercinta) tentu tetap saja kita membutuhkan kehadiran Cinta untuk mengesahkan dan mengindahkan prosesinya.
Lalu apakah lelaki tidak bisa merasakan dan atau membutuhkan Cinta? Tentu saja bisa! Lelaki juga membutuhkan Cinta. Persetubuhan dengan seorang pelacur tentu saja beda rasanya dengan penyatuan tubuh antar sepasang manusia yang saling mencinta. Ada proses saling menjaga, saling memperhatikan, hingga tidak memaksakan, hingga bisa saling mabuk tanpa menjadi liar tanpa aturan, ada senyum tersipu, ada rasa malu-malu yang menggemaskan, rona merah jambu, serta keabadian dalam sebuah pelukan sederhana; semua proses ini berlaku sama, baik pada lelaki maupun perempuan. Kita perlu memisahkan pengertian antara Cinta dan Syahwat.
Cinta adalah sebuah mahakarya adiluhung dari sekeping entitas bernama Hati pemberian Illahi. Dia begitu indah, karena bisa membuat yang merasakannya serasa berada di taman 1000 mawar; pula begitu kuat, karena bisa membuat pemiliknya dihantam kegelisahan tingkat tinggi –tak bisa tidur, tak enak makan, serta diganjar rindu-dendam yang selalu mempertanyakan keberadaan, baik itu keberadaan sang kekasih maupun keberadaan dirinya di hati sang kekasih; begitu cerdas, semua masalah seolah pergi bergegas –saat cinta dalam genggaman, tak ada masalah yang tak bisa diselesaikan. Begitu privat. Misterius. Rumit, menolak dari segala kemungkinan penyimpulan, dan peringkasan –oleh karena itu saya tak mau membahas Cinta terlalu dalam, karena saya tak akan mampu untuk meringkasnya dalam sebuah kesimpulan.
Menghadapi entitas sehebat itu, manusia datang dengan segala keterbatasan pemikiran dan pemahamannya. Di sinilah letak permasalahan yang utama: Manusia kurang persiapan untuk menyambut Cinta, namun teramat kebelet untuk bisa memilikinya.
Aksiom 1: Manusia selalu dibayangi oleh keinginan untuk memiliki Cinta.
Tinjauan berikut adalah soal Poligami. Mengapa ketidaksetiaan terjadi? Mari melihat ke dalam diri. Mengapa seorang Ustadz kondang yang telah memiliki seorang istri yang cantik nan sholihah( sebutlah namanya itu: Teteh), mesti kepikiran untuk menikah lagi? Jangan tanya itu kepada Teteh. Saya tidak mau berpanjang opini soal benar-salah di sini, kerna saya hanya membutuhkan perangkat wacana yang satu ini untuk menuju ke aksiom berikutnya.
Seorang Ustadz adalah juga seorang manusia, biasa pula. Tak ada yang istimewa secara berlebih, biasa saja. Semua hukum dan tatanan sebab-akibat pada diri manusia berlaku sama pada mereka. Mereka juga, merujuk pada Aksiom 1, selalu dibayangi keinginan untuk memiliki Cinta. Pada titik inilah Teteh harus mulai waspada dan belajar menganalisa kondisi dengan stabilitas yang jernih; dia mesti bisa menerima bahwa semua alasan mulia yang dikemukakan oleh si Ustadz, suaminya itu, hanyalah sebuah pembenaran untuk menenangkan hati. Mengikhlaskan diri terkadang hanya sebuah pelarian dari sikap ‘tak bisa apa-apa lagi’. Jadi, kemungkinan apakah yang bisa digali dari kondisi ini?
Si Ustadz juga sedang belajar mengenai Cinta dengan segala keterbatasannya. Lalu dia bertemu dengan seseorang yang dia anggap sesuai dengan hasil pembelajarannya tersebut. Ternyata gayung bersambut, dan selanjutnya adalah… sejarah. Nah, setelah ini, Teteh seharusnya bisa menjawab pertanyaan ini: Kepada siapakah suaminya melabuhkan sebuah rasa yang, menurut pemahaman dan tingkat wawasan suaminya pada saat itu, dianggapnya sebagai Cinta?
Aksiom 2: Cinta itu berbeda dari perasaan belas-kasih atau interaksi kepedulian sosial; meski dia bisa tumbuh dari sana, tetap saja: Tidak sama.
Melanjut pada kasus poligami berikutnya. Ada seorang pengusaha rumah makan sukses yang mempunyai 10 orang istri. Bila ditanya apakah dia mencintai semua istrinya itu, maka dia akan menggelunturkan jawaban bersifat retorika sebelum akhirnya terpaksa untuk mengatakan: YA. Apakah anda akan mempercayai jawabannya? Jangan tanya itu pada istri-istrinya.
Mari menggunakan Aksiom 1 untuk menelusuri jejak roman si pengusaha. Dia adalah manusia, dan dia selalu dibayangi keinginan untuk memiliki cinta. Gabungkan dengan Aksiom 2; di mana dia, sebagai pengusaha, selalu berinteraksi dengan berbagai kalangan( wanita ) dalam kehidupan sosialnya, lalu tumbuh perasaan belas-kasih yang, pada 10 kasus, gayungnya tersambut –mungkin untuk kasus-kasus yang lain dia mendapat sambitan gayung.
Jika pada kasus Ustadz dan Teteh, jawaban mengenai cintanya masih lebih mudah untuk ditelusuri. Maka untuk kasus si pengusaha, jawabannya sedikit lebih rumit, tapi sekaligus bisa dipintas dengan mudah. Maksudnya? Begini…
Si Ustadz dan si Pengusaha sebenarnya sama saja. Sama-sama lelaki dan sama-sama manusia. Si Pengusaha sebenarnya adalah sebuah perulangan dari Si Ustadz sebanyak 10 kali. Untuk memintas pengamatan kita atas cintanya si Pengusaha, kita bisa memakai hukum Gossen1: “Pemuasan atas sebuah obyek, lama-kelamaan akan mencapai titik jenuh.. sampai akhirnya kepuasan itu akan hilang”
Dari sini bisa kita lihat, bahwa pada awalnya si Pengusaha sedang menelusuri pemahaman tentang Cinta. Dan karena dia tidak kunjung puas atas persepsi yang dia peroleh dalam dirinya, maka dia terus mencari jawaban demi jawaban. Sebenarnya sikap begini adalah sikap seorang Sarjana jaman pendekar Tiongkok, belajar terus menerus tanpa pernah puas. Kesalahan terjadi ketika dia bermain-main dengan Rasa, sebuah konsep yang selalu subyektif, sehingga dia harus mengenal titik henti untuk bisa terwujud secara konkrit dalam diri individu. “Aku bilang Teh ini Manis, titik!” demikianlah sikap yang sebaiknya diambil si Pengusaha.
Namun terbawa dalam keberhasilan penguasaan dan penaklukan, si Pengusaha menolak untuk berhenti memuaskan diri. Sehingga pada akhirnya, kepuasan itu justru hilang. Berganti dengan perburuan Status dan pertunjukkan panggung sandiwara. Pada titik sebenarnya dia telah kehilangan sebuah persepsi tentang Cinta dalam dirinya. Bila dia mengatakan bahwa dia mencintai semua istrinya, atas dasar apa dia meletakkan perkataannya itu? Dia akan berbenturan pada banyak sisi kepribadian, sehingga pada akhirnya akan ada sebuah pelepasan tanggung-jawab yang disalah artikan sebagai sikap ikhlas.
Siapa di antara istrinya adalah wanita yang dia cintai? Atas dasar apa dia bisa menentukannya? Dia terlalu banyak mencocok-cocokkan apa yang dia rasa sebagai Cinta dan meminangnya, sehingga dia tidak tahu lagi sebenarnya cintanya itu berlabuh di mana… katakanlah semua istrinya itu adalah kepingan-kepingan dari apa yang dia sebut sebagai Cinta. Lalu bagaimana apabila nanti ada seorang wanita yang menyimpan semua kepingan itu menjadi satu bagian utuh dalam dirinya. Bila si pengusaha meminang pula wanita itu, mungkin bisa dikatakan bahwa dia telah menemukan cinta sejatinya. Tapi bagaimana status dari 10 istrinya yang lain? Hanya menjadi serpihan? Bahkan jika mereka dipertahankan pun, mereka tetap saja bukan perwujudan Cinta dari si pengusaha. Mereka cuma jadi kepingan buku teori tentang cinta, yang disimpan dalam lemari kayu jati di kamar si Pengusaha.
Mau ambil jalan damai? Silahkan. Wacana penawar gelisah bisa diminum di warung jamu terdekat. Tapi tetap tak bisa dipungkiri bahwa Cinta cuma ada satu.
PREMIS: Hanya Bisa Ada Satu Cinta Spesifik Di Hati
Maka anda bisa saja bergumul penuh nafsu dengan seseorang, sementara anda memikirkan seseorang yang lain pada saat yang sama. Dia bisa saja cinta monyet dari jaman Sekolah Dasar, Dia bisa saja seseorang yang baru anda kenal dari situs jejaring sosial, Dia bisa saja seseorang yang baru tadi anda temui di jalan tapi mengucap kalimat yang anda kenang sepanjang jaman. Siapa saja bisa jatuh Cinta, kapan saja, di mana saja. Tapi waspadalah, bersiaplah untuk gelisah, kerna Cinta hanya ada satu dan kehadirannya bisa menjungkirbalikkan semua yang anda yakini sejak awal.
THESIS yang tercipta dari Premis ini adalah: Syukuri Cinta di depan matamu, dan jalani keberadaannya dengan segenap rasa bahagia, berikan semua yang terbaik untuk Cinta, apa pun itu. Karena dia hanya satu, tak terbagi, meski mungkin hanya bisa tersimpan dalam hati; Berikan yang terindah.. hingga bila tiba saat untuk berpisah, hanya ada kenangan yang manis mengulas paras penuh ketulusan.
Seperti seulas senyum penuh syukur diiringi doa tulus untuk kebaikan sang kekasih, di mana pun dia berada.
Selamat Bercinta!!