Thursday, September 02, 2010

Selepas Pukul 12 Malam, Dia Beralih Menjadi... Tomat

Untuk seorang sahabat...



Tak ada yang tahu. Di balik tawanya yang berkumpar dan menggelegar, ada bulir air mata yang berkejaran dengan aliran keringat dingin di paras terajam siksa. Kami menyukai dan terbawa oleh tawa nan riang itu, tanpa mengetahui derita apa yang tersimpan rapi di dalamnya. Kami tak pernah melihat saat sekujur tubuhnya gemetaran, dengan keringat dingin membanjir, mencoba untuk bertahan melawan rasa sakit. Tak jua kala geliginya bergemeretuk, dipadani semburat merah di mata beningnya, bersama lapisan jangat yang meradang bagai terbakar. Apalagi tetes darah yang mengalir dari bagian bawahnya. Jelas, kami juga tak pernah melihat betapa toilet itu dipenuhi rona tragis kemerahan, seperti berbotol-botol saus tomat ditumpahkan di sana. Dia selalu menyiram dan membersihkan semua luka-dukanya: sendirian. Tak ada satupun dari kami yang tahu, dan dia tak pernah merasa perlu untuk memberitahu.

Saat bersama kami, yang ada hanya gurau jenakanya. Lelucon cerdasnya, sindiran sarkastisnya (yang menakik tajam, tanpa tinggalkan bekas luka), dan juga sikap terbukanya kepada semua cerita sahabat. Saya terkagum ketika pada suatu hari, markas kami diramaikan oleh seorang radikal pemula yang mengoceh berapi-api mengenai bagaimana sajak semestinya dibegini-begitukan, membuat telinga kami (yang sudah berasam-garam menggotong-gotong puisi dengan suka-duka yang menumpuk) jadi agak panas dibuatnya... Teman kami itu justru mendengarkan ocehan si radikal muda dengan penuh perhatian, sambil perlahan mengarahkan tanpa memaksa. Dia memberi tempat, dia merangkul dan memberi pilihan. Sampai saat ini bocah radikal itu tak menyadari bahwa dia telah melantur di hadapan seorang pegiat puisi yang ulasannya mengenai karya-karya T.S. Elliot telah dimuat dalam Jurnal Sastra internasional dan menuai puji dari profesor sastra dari berbagai negara. Teman kami yang riang dan selalu meramaikan suasana, ternyata pula teramat rendah hati dan bijaksana. Saya pun terkagum-kagum dibuatnya.

"Suatu hari nanti, gua bakal mati dimakan cacing pita..." Celotehnya pada suatu senja. Kami hanya tertawa, menganggap ucapan itu sebagai salah satu dari leluconnya. Kami tak sadar, dan tak pernah terlintas dalam pikiran: bahwa seekor 'cacing pita' besar sungguh-sungguh sedang mengerogoti kesehatannya dari dalam. Dia tetap saja menjadi pusat keramaian dengan celoteh kreatifnya, sumur tawa riang yang tak kunjung kering. Dia selalu jadi seberkas cahaya terang saat kami mulai suntuk dan dimakan kuasa gelap kebosanan.

Tak ada satupun dari kami yang tahu, dan dia tak merasa cukup penting untuk memberitahu. Bahwa tiap lepas tengah malam, dia beralih rupa menjadi tomat.

Tak ada yang tahu, sampai segala sesuatunya telah menjadi begitu terlambat.



--Bachelor Room 1704, 11th August 2010--

No comments: