Friday, June 17, 2011

Rumahku Istanaku

Jadi begini... Sesederhana apapun, kamu tentu cinta dan bangga dengan rumah yang kamu buat. Di sana kamu tumbuh dan kembangkan semua impianmu. Di sana pula semua yang kamu cintai berada. Nah, jika suatu hari kamu melihat seorang yang tampak menyenangkan di matamu, lalu kamu terkesan dan mengajak orang itu singgah. Apa yang kamu rasakan bila orang tersebut menyambit ajakanmu dengan jawaban seperti ini:
"Oh, saya memang menyenangkan dan cukup berkilau. Kilau saya bisa kamu lihat di rumah Anu, rumah Ono, dan beberapa rumah lainnya. Karena itu saya rasa tak perlu lagi memajang kilau saya ini di rumahmu. (Lagipula rumahmu itu gak begitu penting deh untuk dikunjungi). Anyway, terimakasih lho atas perhatiannya. Kamu bener kok, aku memang menyenangkan, sudah terakui pula..."
Terasa senep bukan? Itulah sebabnya orang seperti itu disebut sebagai Snob, karena menimbulkan rasa senep-oblogodohh.
Lain bila orang itu menjawab dengan: "Oh, terima kasih atas perhatiannya. Nanti deh, kalo sempat, saya berkunjung ke rumahmu ya?" Bahkan bila dia tidak kunjung sempat pun rasanya kita akan cenderung memaklumi.
Kesimpulannya: hargai rumah orang lain seperti kamu menghargai rumahmu sendiri.
Orang snob tanpa sadar akan terputus dari tali silaturahmi.
Selesai.

Monday, February 28, 2011

Membakar Kertas

MEMBAKAR KERTAS
(terjemahan dari puisiku di Wordpress, 'The Burndown of Sass')

Ada celah pada sudut pandang kita
Tanpa karpet selamat datang
Pedang bukan pena, pun sebaliknya
Jadi mengapa halaman dibakar jadi abu?

Ada ketakutan di gua-gua sunyi
Dan siapakah manusia gua sesungguhnya?
Pintu-pintu tertutup dan terkunci
Jendela-jendela remuk dan pecah
Dilempari batu dari pikiran zaman batu.

Ada harga untuk kepastian dalam hidup
Tiada pemikiran, mimpi, bahkan berkelok pun terlarang
Dan kita belajar selama ini bahwasanya
Tiada kedamaian yang bertahan selamanya.

--Udo Indra, akhir 2007--

Saturday, February 26, 2011

Missing the Red

Hasil edit dan kompilasi dari sebuah twitbung karya Indra Afriza di Twitter ( Udo_Indra )
****

Malam ini aku melihat imajimu, dalam rona kemerahan. Wajah ini menyala. Ada bara yang meletup kecil, namun begitu terasa. Setelah kuyup dalam pergulatan panjang, akhirnya aku bisa memaafkan diriku sendiri. Biar kau tetap merah, apatah salah? Tiada, semua fana.

Selama ini, setelah itu, kita kukuh bicara pada tembok. Saling menyapa, tapi ke arah udara. Sirna ditiup badai maya.

Tak berani kubilang bilangan rasa. Takut mencakar wajahku, merajam lidahku. Tak terbilang bilangan nada. Tiada usaha utk mempermanai.

Musnah? Tak pernah. Seperti kata kita yang sukasuka. Selalu ada. Bahkan saat beranda kita sepi. Angin terus saja mencandai pandangan kita..

Nada kita seperti petikan gitarmu di pantai sepi. Seorang lelaki menggapaimu, moksa. Dua malekah kecil bergayut padamu, manja. Lagumu, sunyi.

Lalu kau berlari pada kubu pastoral di ranah priangan. Aku membacanya pada sebuah teras, hanya membaca. Kaki ini dimakan belatung raja.
Lalu kita sama berdoa. Sama sembunyi. Tutupi yang tak terbantahkan. Kita coba menerima sebuah titik henti. Mengunyah detak detik penuh seksa.

"Aku abis mbaca Djenar, dia lucu!"
"Oh ya? Aku baru mbaca Wendo. Dia lucu juga!"

Klik! Nostalgia, badai nostalgia... Gila!

Masih terkenang saat berlindung dari kuyup hujan di warung kopi. Hujanmu lebih parah, kau sembunyikan kabar dalam renyah tawa. Semua berlalu.

"I miss you, Red!" Teriakku di tubir malam. Di antara hingar kesunyianmu, sampaikah nada sepiku? Batubatu bergeluntur... Kita mengunduhnya.

Ketiadaan mengadakan peniadaan. Detak bergulir... Bertahan di tiga titik penahan laju rasa. Terhela dalam keterpaksaan kondita. Singasasana.

Setelah itu, selama ini, demikianlah. Aku menggoreng tahu sunyi, kau memetik gitar sakanada. Semua di luar terus mengalir sahaja..

Panda mengunyah peppermint..

Ada gosip soal serombongan tikus mati di Kutub Utara..

Sampai pada suatu hari seorang bidadari tembam memberi kabar: kisah kita mungkin akan bersambung.. Mungkin? Ya, mungkin saja!

Nah, kerna masih semata kemungkinan. Mari, kita syukuri dulu. Mari, kita biarkan teka-teki selesai utk sementara. Berhenti dulu menerka-nerka.

"Good night, Red." bisikku di tiang pancang malam. Angin semilir, buah mangga jatuh. Dan racauan ini selesai. Untuk sementara.

Thursday, October 14, 2010

Hari ini aku sedih sekali. Kepingin mengutuk maki. Tahi kucing dan semacamnya. Panitia brengsek! Hilang sudah kegembiraan selama masa penantian..
Hasil riset berhari-hari, kerja pematangan, penggarapan.. Hilang begitu saja.. Sirna, musnah.. Bahkan tanpa setetes minyak bagi lentera jiwa.. Aku luruh, lara, merasa dungu tiada terkira.. Aku jatuh, dalam putaran kegusaran.. Brengsek! Mestikah aku jadi mestika sunyi.. Kembali?

Panitera siaaalaaaaannn...!!!

Thursday, September 23, 2010

aku mengenalnya sebagai manusia kota pada umumnya; sekali tempo sanggama, sesekali jojing-jojing, sekali tempo juga beribadat. Sebagai lelaki, dia cukup komplit; pernah patah dan mematahkan, pernah memukul dan terpukul, juga pernah jalan-jalan tanpa biaya (cuma lelaki, dalam opini publik, yang boleh begini dan dapat predikat 'macho'). Seringpula nubruk dan lalu berdusta. Seolah tak berdosa, tak berdaya, atau tak beroda. Komplit sudah, bejat di pelupuk mata, bisul yang tak terlihat jiwa.
Cuma satu hal yang belum bisa dia lakukan: berhenti jadi buaya.
Tobatlah, kawan. Kegantenganmu akan lebih mantap, saat kau mulai mengenal kata SETIA.

Sunday, September 05, 2010

Dan di tempat ini, kembali ku berkontemplasi. Di antara kotak kaku porselain, pintu kayu dengan ukiran minimalis, bau sangit yang samar. Lalu kabut tercipta di antara bening mata.. permaafan seolah tertahan di kerongkong, menanti untuk dimuntahkan..
Waaahh.. Kok jadi puisi lageee... Salah halaman nehh.. Gimana seehhh..!
Harusnya gini: salam buat harga cabai dan teman2 dari grup sembakauw.. Hebat euy, melonjak terouussss..!
Geetoooohh..!
"kubaca lagi kata-katamu, apakah itu benar dirimu? Atau kebencian yang ditularkan? Aku berserah, meski dalam gatal. Kubaca lagi penghinaanmu, apakah itu benar hatimu? Ataukah solidaritas sakit hati anggota persekutuan? Aku berserah, meski terasa ada yang pecah.."

Kalo gua bilang sih: semoga lu baek2 aja. Cuma sebentar kok, masa ulang-alik itu; dan setelahnya, waktu yg akan membuktikan: apa lu sukses jadi astronot.. atau malah meledak seperti Chalenger.. Pada saat itu, berserahlah.. setiap akhir membawa hikmah, pastikan! Biar titik akhirmu tidak terbuang percuma.. begitu saja.
Doaku menyertaimu, ku, dan kita.. Sebagai sahabat. Tak lekang dijajar puji, tak luntur dipulas caci. Teruslah berkarya, dan.. Berharap indahnya keabadian. Semoga awet!
nguprak-nguprek status.. malaass. Bikin motivasi WTW.. malaass. Kasih saran ke temen, yg diberi malah bela diri: Kungfu lageee.. salah paham lageee.. perang kata diam2 lagee.. akhirnya mentok di lelucon, asal damai, sekedar hadir.. ciss!
jadi rindu masa banting2 meja dan kursi bersama, teriak2 api, lalu tetep ngopi dan ketawa bareng setelahnya.. sejati cuma dikit, tapi sekali dapet, bisa awett sampe mati.. demi yg kayak gitu, gua siap sabar.. buat yg sensi: nih, lelucon asal hadir untuk kalien!
(sengaja 'kalien', bukan 'kalian', ada ilmunya tuhh.. pustaka! pustaka!)
Mereka selalu iri pada kita.. mengapa mereka iri? Padahal mereka punya banyak menara duniawi?
Aah.. mungkin karena kita punya menara yang hakiki.. kita punya menara kemungkinan, dari tubir kalbi..
Jaga!

Thursday, September 02, 2010

Selepas Pukul 12 Malam, Dia Beralih Menjadi... Tomat

Untuk seorang sahabat...



Tak ada yang tahu. Di balik tawanya yang berkumpar dan menggelegar, ada bulir air mata yang berkejaran dengan aliran keringat dingin di paras terajam siksa. Kami menyukai dan terbawa oleh tawa nan riang itu, tanpa mengetahui derita apa yang tersimpan rapi di dalamnya. Kami tak pernah melihat saat sekujur tubuhnya gemetaran, dengan keringat dingin membanjir, mencoba untuk bertahan melawan rasa sakit. Tak jua kala geliginya bergemeretuk, dipadani semburat merah di mata beningnya, bersama lapisan jangat yang meradang bagai terbakar. Apalagi tetes darah yang mengalir dari bagian bawahnya. Jelas, kami juga tak pernah melihat betapa toilet itu dipenuhi rona tragis kemerahan, seperti berbotol-botol saus tomat ditumpahkan di sana. Dia selalu menyiram dan membersihkan semua luka-dukanya: sendirian. Tak ada satupun dari kami yang tahu, dan dia tak pernah merasa perlu untuk memberitahu.

Saat bersama kami, yang ada hanya gurau jenakanya. Lelucon cerdasnya, sindiran sarkastisnya (yang menakik tajam, tanpa tinggalkan bekas luka), dan juga sikap terbukanya kepada semua cerita sahabat. Saya terkagum ketika pada suatu hari, markas kami diramaikan oleh seorang radikal pemula yang mengoceh berapi-api mengenai bagaimana sajak semestinya dibegini-begitukan, membuat telinga kami (yang sudah berasam-garam menggotong-gotong puisi dengan suka-duka yang menumpuk) jadi agak panas dibuatnya... Teman kami itu justru mendengarkan ocehan si radikal muda dengan penuh perhatian, sambil perlahan mengarahkan tanpa memaksa. Dia memberi tempat, dia merangkul dan memberi pilihan. Sampai saat ini bocah radikal itu tak menyadari bahwa dia telah melantur di hadapan seorang pegiat puisi yang ulasannya mengenai karya-karya T.S. Elliot telah dimuat dalam Jurnal Sastra internasional dan menuai puji dari profesor sastra dari berbagai negara. Teman kami yang riang dan selalu meramaikan suasana, ternyata pula teramat rendah hati dan bijaksana. Saya pun terkagum-kagum dibuatnya.

"Suatu hari nanti, gua bakal mati dimakan cacing pita..." Celotehnya pada suatu senja. Kami hanya tertawa, menganggap ucapan itu sebagai salah satu dari leluconnya. Kami tak sadar, dan tak pernah terlintas dalam pikiran: bahwa seekor 'cacing pita' besar sungguh-sungguh sedang mengerogoti kesehatannya dari dalam. Dia tetap saja menjadi pusat keramaian dengan celoteh kreatifnya, sumur tawa riang yang tak kunjung kering. Dia selalu jadi seberkas cahaya terang saat kami mulai suntuk dan dimakan kuasa gelap kebosanan.

Tak ada satupun dari kami yang tahu, dan dia tak merasa cukup penting untuk memberitahu. Bahwa tiap lepas tengah malam, dia beralih rupa menjadi tomat.

Tak ada yang tahu, sampai segala sesuatunya telah menjadi begitu terlambat.



--Bachelor Room 1704, 11th August 2010--