Thursday, November 22, 2007

BAHASA RELIGIA

Apakah sholat itu? Banyak sudah jawaban yang tersedia. Mulai dari kitab suci, kamus, sampai buku pelajaran agama Islam yang tersebar dari toko besar sampai di emperan pasar. Namun, sewajarnya manusia, pertanyaan memang perlu hadir untuk menemani keberadaannya. Ada yang sudah tahu dan menjalaninya dengan damai, ada yang sepertinya tahu namun agak tergagap-gagap bila harus memberi penjelasan, ada pula yang belum mengerti dan atau kurang begitu peduli untuk memahami. Saya sendiri belum mengerti tapi ingin mengerti, merasa peduli dan berusaha mencari jawab --setidaknya untuk saya pribadi. Karena saya merasa akrab dengan satu konsep yang bernama Bahasa, jadi saya putuskan untuk memulai langkah dari situ.
 
Setelah membaca beberapa puisi tentang batu yang meratap, angin yang berbisik, dan gelombang laut yang memaki-maki, saya berangkat ke pulau makna dengan menumpang bahtera metafor. Di tengah perjalanan kapal disambut oleh angin yang menjerit, bersama badai yang terbahak, gelombang laut menampar-nampar di belakang kepala. Kemudian gumpalan awan membisikkan sebuah wahyu yang berbunyi: Semua yang ada di dunia ini memiliki Bahasa-nya sendiri-sendiri..
 
"Semua yang ada di dunia ini memiliki Bahasa-nya sendiri-sendiri..."

Tahan langkah sejenak, buat catatan: 'bahasa' di sini adalah sebutan yang saya pakai untuk sebuah tata komunikasi, bukan pengertiannya secara semantik. Sebuah tata pewicaraan. Dari batu ke samudera, dari monyet sampai manusia; Semua saling berkomunikasi dengan caranya masing-masing, demikian juga dengan perangkat yang melekat dan unsur-unsur di sekitarnya. Semua menjadi bagian dari suatu keterpaduan(kosmos), sebuah usaha untuk menjaga pemahaman dari arus semesta kemungkinan(chaos).
 
Dengan demikian agama, sebagai salah satu perangkat utama dari manusia berakal-budi, tentu juga memiliki Bahasa-nya sendiri.
 
TUJUAN BERBAHASA
 
Untuk apa Bahasa ada? Untuk pertukaran pengetahuan dan perasaan. Kita bisa saja sekedar menggeram untuk menunjukkan amarah, orang pun akan tahu bahwa kita sedih dengan menunjukkan muka lembik dan mata berkaca-kaca. Ini adalah bahasa tubuh. "Aku tak suka bila kamu memperlakukanku seperti itu!", "Selasa kemarin, tante Yanti meninggal..." Ini adalah bahasa Indonesia.
Kita bisa berdiskusi, bertanya, atau mengeluh dengan menggunakan perangkat bahasa.
 
Bagaimana bila kita ingin berdiskusi, bertanya, atau mengeluh pada Tuhan? Pertanyaan ini mendekatkan kita pada sebuah konsep bernama: Agama. Jadi bila kita ingin bicara dengan-Nya, kita mesti menggunakan bahasa Agama? Oooh, begitu... ya? Tahan dulu, kita mesti mendekati subjek yang satu ini dengan jiwa dan pikiran yang terbuka.
 
"..Aku bicara dengan langit jua, langit tak mendengar.."
                                           --Ariel Peterpan
 
Tuhan seringkali dianalogikan dengan udara(oleh guru SD), tak terlihat tapi ada. Sering juga disebut dengan akhiran -Nya atau -Mu. Dia juga kadang diringkas menjadi 'Langit'. Semua analogi itu lahir dari rindu-dendam kita atas keberadaan-Nya, pula keinginan untuk berbicara dan membicarakan-Nya. Meski, seingat saya, Dia belum pernah berbicara langsung pada kita para manusia, kecuali pada para Nabi barangkali --itu pun konon melalui perantara malaikatnya.
 
"Kamu mau memiliki batu berisi 5 perintah Tuhan?"
--"Berapa harganya?"
"Oh, ini gratis."
--"Kalau begitu, kami ambil dua..."
(--Anekdot tentang orang Israel saat mereka ditawari 10 perintah Tuhan)
 
Sutardji Calzoum Bachrie menggunakan analogi batu untuk membicarakan Tuhan. Saya merasa tertarik dengan konsepnya dan memutuskan untuk menggunakan amsal yang sama. Jadi sebelum saya berbicara dengan Tuhan, pertama-tama saya coba berbicara dengan bebatuan. Siapa yang mengerti bahasa batu? Cari tahu dengan hatimu. Batu-batu yang berterbangan saat ada kerusuhan massa, bisa digubah menjadi puisi yang menggugah. Deretan batu-batu akik di jemari dapat menyampaikan status mistis dari sang pemilik. Susunan batu-batuan bahkan bisa digunakan untuk menyampaikan pesan-pesan artistik, geografis, atau sosial.
 
Maka saya anggap saja batu itu sebagai satu entitas super jenius dan manusia sebagai entitas yang amat bodoh (//...but nonetheless an entity...// --William Blake). Sehingga batu bisa mengerti apa pun bahasa kita, namun kita tak mampu memahami bahasa batu. Kita bisa mengeluh, memaki, dan bertanya pada batu dengan menggunakan bahasa Perancis, Inggris, atau Melayu. Akan tetapi manusia tak dapat menangkap jawaban dari batu karena tak mengerti bahasanya.
 
Karena bahasa dari entitas super-jenius memang teramat sukar untuk dipahami oleh entitas super-bodoh, maka sang batu lantas menciptakan sebuah tatanan pewicaraan yang lebih mengakar pada daya tangkap dari intuisi dan kepekaan hati. Sebuah bahasa universal yang tercipta untuk mereka yang ingin berbicara dengannya. Anda ingat bahasa Tarzan? Unsur apa yang lebih ditekankan di sana? Terutama adalah kesatuan antara gerak tubuh dan suara-suara simbolis. Gerak diperlukan untuk menekankan maksud dan tujuan; mengangkat tangan sebagai tanda berserah diri, bersujud untuk menunjukkan kepatuhan dan ketakziman, dan semacamnya. Sementara suara-suara simbolis dijadikan sebagai penguat maksud yang ingin disampaikan -mengingat ada keterkaitan emosi daripadanya. (Dalam perkembangannya suara-suara simbolis ini kemudian diatur dan dibakukan agar tidak terjadi kesimpangsiuran dan agar suasananya jadi lebih nyaman bagi kedua-belah pihak yang melakukan pembicaraan.)
 
Karena udara di sekitar mulai terasa sublim, saya putuskan untuk mengembalikan batu pada status sebelumnya, seperti yang kita lihat sehari-hari. Saat kaki anda tersandung batu di tengah jalan, apa yang anda lakukan agar batu itu tidak berada pada tempat yang sama setelahnya? Memaki-maki si batu dan menitahnya agar pindah ke pinggir jalan tentu takkan mempunyai pengaruh sedikit pun. Batu itu akan tetap bergeming. Agar batu itu bisa berada posisi yang kita inginkan, diperlukan sebuah kesadaran dan gerak tubuh yang sesuai untuk memindahkan batu tersebut ke tempat yang sesuai pula. Satu kesadaran yang dibarengi dengan gerak tubuh yang baik untuk meletakkan sesuatu ke tempat yang baik, hal ini sesuai dengan pengejawantahan dari sifat 'ikhsan'. Karena perilaku tadi bisa menyampaikan maksud kita kepada batu, maka bisa dianggap bahwa kita telah menemukan cara untuk 'berbahasa' dengan batu.
 
Sekarang kita lupakan batu-batuan. Jika kita sandingkan kata 'agama' dengan kalimat: 'Satu kesadaran yang dibarengi dengan sikap tubuh yang baik untuk memulai suatu percakapan', apa yang terlintas di benak anda sebagai seorang muslim? Mungkin ada banyak hal, akan tetapi bila anda teringat kepada sholat maka itu artinya kita menumpang bahtera metafor yang sama.
 
Mendekati pelabuhan Makna, saya menemukan bahwa Islam sebagai agama mempunyai sebuah bahasa; sebuah perangkat wicara yang disusun dalam sebuah tatanan niat, gerak tubuh dan pewacanaan ayat-ayat suci serta gramatika tegur-sapa yang telah dibakukan. Sebuah perangkat berbahasa yang diberi nama: 'Sholat'.
 
Suara Adzan terdengar, bahtera metafor yang saya tumpangi hampir sampai di pelabuhan. Saya pun tersadar, banyak hal yang ingin saya sampaikan kepada Tuhan. Untuk menemui dzat yang Maha Suci, tentulah kita pun mesti mensucikan diri terlebih dulu. Sebagai sebuah penghormatan kepada kawan bicara, saya pun berwudhlu. Dia sang Maha Besar, sebagai kata pembuka saya menyapa-Nya dengan sebutan: "Allahu Akbar", lalu gramatika protokoler, dilanjutkan dengan pilihan ayat suci yang sesuai dengan suasana hati. Hari ini: Al-Ashr.
 
Demi masa, dan Dia yang menguasai perputarannya.
 


Sunday, August 26, 2007

SOAL MANUSIA BAG.2

Essei kali ini, mudah-mudahan, adalah sebuah konklusi. Sambungan dari pewacanaan sebelumnya tentang golongan orang-orang yang diuji.

Setelah orang-orang yang diuji dengan kelapangan, golongan berikutnya adalah orang-orang yang diuji dengan kesempitan.

Mereka yang kehilangan atau tak berpunya; baik itu harta-benda, keluarga, sanak-saudara dan atau orang-orang yang dicinta. Mereka yang berada dalam proses tersudutkan yang menggiring kepada rasa ketidakpercayaan, pula keraguan, akan hadirnya secercah cahaya kecil bernama Harapan. Akibat terlalu dekat dengan sisi pahit kehidupan, mereka jadi berburuk sangka pada kekuatan dari keyakinan.
Gamang. Pasrah. Penyederhanaan pola pikir untuk sekadar bertahan -bagaimana pun caranya.

Untuk menyikapi penderitaan dalam rangkulan ukhuwah diperlukan adanya kepedulian kolektif, agar bisa menunjukkan bahwa kita tidak hidup sendirian di dunia yang luas ini; Percaya bahwa alien yang baik itu ada, meski tetap waspada kepada predator yang ganas.

Kepedulian Kolektif: satu kepedulian yang hadir dari kebersamaan.

Yakinkan, terutama pada diri sendiri lalu orang yang diuji, bahwa ujian yang hadir berbanding lurus dengan kemampuan si penerima. Ingat juga bahwa ada orang lain yang mungkin mendapat ujian lebih berat, dan cari tahu bagaimana cara mereka melewatinya. Tanamkan pula satu konsep keadilan semesta: bahwa semakin berat ujian yang diterima, bila mampu disikapi dengan baik, akan berujung pada bertambahnya kemampuan untuk menghadapi semerta cobaan. Anda tentu ingat pada konsep dasar vaksinasi?

Keyakinan memerlukan kesabaran. Bersabarlah dalam menghadapi ujian agar terhindar dari ketersesatan pikiran. Meski sulit dalam keadaan kalut untuk tetap bisa bersabar namun, sekali lagi, ingatlah pada konsep vaksinasi. semakin tinggi takaran uji, semakin kukuh daya tahan diri.

Segala sesuatu terjadi tepat pada waktunya dan semuanya tersusun untuk membentuk suatu tujuan. Buah yang matang penuh akan jatuh ke tanah, terkubur, membusuk, untuk memberi jalan pada tunas teruna agar bisa tumbuh mekar melanjutkan siklus kehidupan.

Demikianlah akhir dari wacana 'Soal Manusia'. Sampai jumpa lagi di halaman blog yang sama, dan... Merdeka!

Thursday, January 25, 2007

SOAL MANUSIA

Manusia, dalam perjalanan hidupnya, melewati tahap-tahap penyesuaian dan percobaan, serangkaian pengujian, sampai akhirnya dipanggil menuju keabadian; untuk ditimbang segala amal perbuatannya pada neraca Sang Maha Adil.

Setiap manusia menghadapi ujiannya masing-masing dengan bentuk dan penerimaan yang berbeda-beda pula. namun ada dampak bawah sadar yang perlu dicermati dalam proses penerimaannya.

pada kesempatan ini, saya akan mencoba mewacanakan dua golongan manusia dan ujian yang diterima oleh mereka.

Golongan yang pertama adalah manusia yang diuji dengan kelapangan; mereka ini rentan sekali dihinggapi oleh resiko ketumpulan empati dan kedangkalan sudut pandang.
Mengapa? Salah satu penyebabnya adalah karena mereka yang hidup dalam kelapangan untuk memilih --ceteris paribus-- tidak terlatih untuk memahami kondisi dari mereka yang hidup dalam situasi di mana pilihan jadi begitu terbatas hingga nyaris tiada.

Bisa diperkatakan: "Adalah sulit bagi mereka dengan perut yang terjamin kekenyangannya untuk memahami derita orang-orang lapar." Ini bukan berarti orang-orang berperut kenyang tidak boleh atau tidak bisa merasa peduli. kecenderungan yang ada di sini adalah belum terciptanya pemahaman di mana pengalaman difungsikan sebagai pendidik. Inilah yang saya maksud sebagai ketumpulan empati, saat kemampuan untuk membelah permasalahan yang ada belum terasah oleh keterkaitan rasa pada realita yang berjalan.

maka perlu upaya untuk memahami Realita sebagaimana adanya, lalu berusaha dengan segenap kemampuan dalam diri untuk memperbaiki kekurangan yang ada.
Jika seseorang yang telah mendapat kelapangan merasa tak mampu untuk melakukan perbaikan pada lingkungannya dikarenakan keterbatasan sarana dan prasarana; maka semestinya disadari: Jika dia saja begitu cepat terhalangi oleh keterbatasan, tentu lebih cepat lagi keterbatasan itu mengurung orang-orang yang nasibnya jauh lebih kurang beruntung dibanding dirinya...

<BERSAMBUNG>